International 20mother 20language 20day header cropped

Hari Bahasa Ibu Internasional

Pendataan Informasi Leksikal dalam Kodifikasi Bahasa bagi Pemartabatan Bahasa Daerah dan Pemerkukuhan Bahasa Nasional di Indonesia 

Terdapat 700-an bahasa di Indonesia. Karena bahasa merupakan salah satu aspek pembeda suatu etnik dari etnik lain, dapat dikatakan bahwa terdapat 700-an kelompok etnis di Indonesia. Dengan demikian, terlihat bahwa Indonesia merupakan sebuah negara yang sangat multilingual.

Bahasa suatu kelompok etnis pada umumnya disebut bahasa daerah (BD). Penyebutan itu bersesuaian dengan hakikat bahwa BD dituturkan oleh penduduk asli suatu daerah, biasanya dalam wilayah yang multilingual. BD berkontras dengan bahasa nasional (BN). Dalam konteks keindonesiaan, BDyang dianggap sebagai bahasa vernakular, dikontraskan dengan bahasa Indonesia (BI), yakni yang ditetapkan sebagai bahasa resmi (BR) sekaligus sebagai BN.

BD di Indonesia pada umumnya merupakan bahasa ibu karena merupakan bahasa yang dikuasai penutur pertama kali sejak lahir dan diperoleh melalui interaksi sosial dengan sesama anggota kelompok etnis. Dengan kata lain, BD pada umumnya merupakan bahasa pertama (B1). Sementara itu, BI, sebagai bahasa resmi dan/atau BN pada umumnya merupakan bahasa kedua (B2) bagi warga negara Indonesia.

Berbeda dari BD yang diperoleh (acquired) dalam konteks alamiah, BI dipelajari (learned) dalam konteks pendidikan. Selain dalam konteks pendidikan, BI pun digunakan dalam konteks kepemerintahan dan konteks penting lainnya seperti konteks sosial kemasyarakatan yang melibatkan penutur berinteraksi dengan mitra tuturnya dengan latar B1/BD yang berbeda-beda.

Pengutamaan penggunaan B1 dalam dunia pendidikan, khususnya pada jenjang pra-sekolah dan sekolah dasar, telah menunjukkan memberi siswa fondasi yang kuat untuk mempelajari bahasa lain pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sementara itu, banyak orang berpendapat bahwa transfer nilai budaya sebuah kelompok etnis akan efektif jika disampaikan dalam B1/BD. Dengan demikian, pendidikan pada jenjang awal akan efektif jika menjadikan B1/BD sebagai bahasa pengantar. Di samping itu, melalui penggunaan BD, upaya pemartabatan BD sebagai salah satu aspek budaya pun terlaksanakan.

Selain sebagai BN/BR di Indonesia, BI pun dihayati sebagai bahasa persatuan (lingua franca). BI, sebagai salah satu penanda eksistensi Indonesia, perlu diperkukuh sehingga eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia semakin kukuh pula. Sementara itu, pengembangan pendidikan nasional akan efektif dan efisien bila sebuah negara hanya memiliki sebuah bahasa yang ditetapkan sebagai BN. Dengan demikian, pemerkukuhan BI sebagai BN akan menjadi salah satu pendukung keberhasilan upaya pengembangan pendidikan di Indonesia.

Realisasi dua gagasan tersebut di atas (pemartabatan BD dan pemerkukuhan BN) memerlukan upaya pendukung. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah kodifikasi (standardisasi/pembakuan) bahasa. Salah satu upaya dalam kodifikasi bahasa adalah pendataan informasi leksikal bahasa itu. Oxford Global Languages (OGL), sebuah inisiatif dari Oxford University Press (OUP), telah melakukan upaya membangun sumber daya leksikografis bagi 100 bahasa di dunia dan menyediakan repositori informasi leksikal yang saling terkait, untuk para penutur, pemelajar, dan pengembang bahasa secara daring.

Keseratus bahasa tersebut di atas ternyata baru melibatkan BI atau belum melibatkan BD yang ada di Indonesia. Semoga upaya yang dilakukan lembaga itu segera melibatkan BD yang ada di Indonesia sehingga upaya kodifikasi bagi BD di Indonesia dapat lebih ditingkatkan. Upaya kodifikasi BD itu pun bersesuaian dengan misi UNESCO yang memartabatkan bahasa ibu (yang dalam tulisan ini disebut sebagai BD). Dengan demikian, upaya pemartabatan bahasa ibu atau BD dan pemerkukuhan BN di Indonesia semakin dapat terus ditingkatkan. Sebagai penutup, semoga artikel singkat ini dapat ikut memeriahkan perayaan Hari Bahasa Ibu Internasional yang ditetapkan oleh UNESCO pada 21 Februari.

Dr. Fauzi Syamsuar, Language Champion – Indonesian

The opinions and other information contained in OxfordWords blog posts and comments do not necessarily reflect the opinions or positions of Oxford University Press.

Powered by Oxford