Editing 20isizulu

Penggunaan Huruf Kapital dalam Bahasa Indonesia


Ketertiban dalam penggunaan huruf kapital (huruf besar) saat menulis seringkali diabaikan. Tidak hanya dalam tulisan biasa, penggunaan huruf kapital juga sering tidak diperhatikan dalam tulisan yang dijadikan sarana pendidikan untuk masyarakat. Kita dapat melihatnya dalam tulisan di media massa, sarana promosi umum, atau tulisan lainnya.

Jika masyarakat terbiasa melihat penyajian bahasa yang salah, kesalahan akan menjadi kelaziman. Akibatnya, bahasa yang salah lantas dianggap wajar. Jika ini terus terjadi, kita akan sulit memelihara keutuhan bahasa yang kita banggakan sebagai salah satu identitas bangsa.

Oleh karena itulah, penggunaan huruf kapital dalam Bahasa Indonesia untuk berbahasa dengan baik dan benar akan dipaparkan secara singkat disini. Berikut adalah ketentuan untuk apa saja huruf kapital digunakan.

  1. Untuk awal kalimat.

    Air di sungai itu sangat jernih.         


  2. Untuk nama agama, kitab suci, nama Tuhan, dan kata ganti Tuhan.

    Hanya Allah yang bisa menguatkan hati, karena itu memintalah selalu kepada-Nya agar hati kita tetap dalam kebaikan. 


  3. Untuk nama gelar kehormatan, gelar keturunan, atau gelar keagamaan yang diikuti dengan nama orang. Jika gelar tersebut tidak diikuti dengan nama orang, maka tidak digunakan huruf kapital.

    Perempuan bergamis itu adalah istri Haji Shiddiq.
    Furqon akan menunaikan ibadah haji tahun ini.


  4. Untuk nama jabatan atau pangkat yang diikuti dengan nama orang, instansi, dan tempat (termasuk untuk pengganti semua itu).

    Kegiatan pemberian bantuan pasca gempa kemarin dihadiri juga oleh Pimpinan Telkom Sumbar, Muskab Muzakkar.


  5. Untuk setiap unsur-unsur nama orang dan nama-nama geografis (nama kota, nama daerah, atau lokasi). Namun demikian, huruf kapital tidak digunakan untuk unsur-unsur nama orang dan geografis yang dipakai sebagai nama jenis atau satuan ukuran (seperti volt, jeruk bali), juga tidak untuk nama geografis yang tidak khas. Sementara, untuk unsur-unsur nama, huruf kapital tidak digunakan untuk bin, binti, dan alias.

    Nama perempuan itu Nedia Puspita.
    Pemandangan Gunung Merapi dari Padang Panjang sangat indah.
    Dia sangat menyukai berselancar dan mendaki gunung.


  6. Untuk nama suku, bangsa, negara, dan bahasa. Namun jika nama tersebut terletak di tengah kata awalan dan kata akhiran atau sebagai sisipan, maka tidak digunakan huruf kapital.

    Meskipun dia orang Batak, tapi bicaranya kejawa-jawaan. Mungkin karena istrinya berasal dari Solo, membuatnya jadi terbiasa berlogat Jawa.


  7. Untuk nama hari, bulan, tahun, peristiwa sejarah, dan hari khusus publik.

    Kedua bayi kembarnya lahir di bulan Mei, bertepatan dengan awal tahun Muharram saat itu.


  8. Untuk nama organisasi, badan atau lembaga, instansi pemerintah, dan dokumen resmi Negara. Dipakai juga pada kata-kata unsurnya kecuali kata penghubung.

    Regulasi itu sudah digodok oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.


  9. Sebagai huruf pertama pada singkatan nama gelar, pangkat, sapaan.

    Apakah kaki Bapak sudah sembuh? (sapaan)
    Jika Anda serius, perlihatkan kesungguhan Anda!


  10. Untuk setiap kata di judul buku, tulisan, artikel, dan lainnya yang sejenis. Juga dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalamnya kecuali kata penghubung yang tidak terletak pada posisi awal.

    Novel itu berjudul Sampai Tua Sampai Mati.


  11. Sebagai huruf pertama petikan langsung.

    Dia berkata, “Jika tidak sungguh sayang, tak mungkin perjuangan sejauh ini.”


Demikianlah pembahasan ini. Semoga bermanfaat.




The opinions and other information contained in OxfordWords blog posts and comments do not necessarily reflect the opinions or positions of Oxford University Press.

Powered by Oxford