Ondel ondel

Potret Bahasa Betawi

Dalam beberapa tahun terakhir ini bahasa Betawi semakin jarang digunakan oleh penduduk Jakarta. Padahal, jika kita lihat dari sejarahnya, bahasa Betawi memiliki peran penting dalam komunikasi di Indonesia, khususnya di era 1970an ketika bahasa Betawi cukup banyak ditemukan di publikasi surat kabar, film, cerita pendek, dan satir politik. Bahasa daerah, termasuk bahasa Betawi merupakan kekayaan budaya Indonesia, sehingga perlu dilestarikan dan dipertahankan keberadaannya.

Saat ini telah ada beberapa upaya yang dilakukan utuk memertahankan bahasa Betwai. Bahasa dan budaya Betawi sudah dimasukkan ke dalam kurikulum pelajaran di sekolah dasar, dengan nama PLBJ (Pendidikan Lingkungan dan Budaya Jakarta). Bahasa Betwai juga mulai dimasyarakatkan kembali melalui latihan lenong di tingkat RT atau RW, pembentukan sanggar seni budaya Betawi di gelanggang remaja, pertunjukan seni Betawi di berbagai kegiatan, dan peluncuran situs web Portal Betawi yang berisi biografi tokoh Betawi, cerita pendek mengenai tempat bersejarah dan keunikan budaya Betawi, dan kamus bahasa Betawi.

Di kamus yang tersedia di Portal Betawi, terdapat sekitar 300 kata yang merupakan kosakata bahasa Betawi yang cukup sering digunakan di Indonesia. Akan tetapi, kata-kata tersebut kurang mendapatkan pengakuan di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dari 80 bahasa daerah yang disebutkan sebagai sumber kosakata daerah di KBBI edisi 5 (2016), tidak ditemukan bahasa Betawi. Di beberapa contoh, ada kecenderungan menyamakan bahasa Betawi dengan bahasa Melayu Jakarta. Hal ini mungkin karena bahasa Betawi masih belum dianggap berstatus sebagai bahasa, melainkan hanya sebagai dialek. Beberapa kata dari bahasa Betawi hanya diberi label cak (percakapan) di KBBI. Contohnya kata angob (‘menguap’) dan manyun (‘cemberut’). Kedua kata tersebut dapat ditemukan dalam kamus bahasa Betawi, namun hanya diberi label cak di KBBI.

Penempatan bahasa Betawi sebagai ragam percakapan saja di KBBI mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa bahasa Betawi memang lebih sering digunakan dalam suasana informal. Beberapa contohnya adalah kata nyelonong (‘tanpa permisi’), nongol (‘datang’), dan ribet (‘sulit’). Selain itu, bahasa Betawi kadang diasosiasikan sebagai bahasa yang emosional dan kasar. Selain mungkin disebabkan oleh keberadaan kata-kata seperti bacok (‘berkelahi dengan menggunakan golok’), dongok (sangat bodoh), dan gaplok (‘menampar’), intonasi yang tinggi sering dianggap menambah keburukan persepsi akan bahasa Betawi. Akan tetapi, semua bahasa tentu memiliki kata-kata kasar dan berkonotasi negatif. Ini bukan berarti bahwa bahasa tersebut termasuk bahasa kasar. Bahasa merupakan bagian dari budaya yang perlu diperhatikan. Demikian juga halnya dengan bahasa Betawi, yang perlu diteliti secara lebih serius agar dapat dilestarikan, karena merupakan bagian dari budaya Indonesia.


The opinions and other information contained in OxfordWords blog posts and comments do not necessarily reflect the opinions or positions of Oxford University Press.

Powered by Oxford