Formal 20or 20informal 20writing

Tulisan formal dan Tidak Formal

Ragam Bahasa tulis adalah ragam bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan huruf tertulis sebagai media dasarnya. Komunikasi ini dilakukan tidak secara langsung karena orang-orang yang terlibat dalam komunikasi jenis ini tidak bertatap muka. Sama seperti ragam bahasa lisan, ragam bahasa tulis juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal bahasa seperti hubungan penulis dengan orang yang membaca tulisan, usia penulis, latar penulisan, dan lain sebagainya, yang tentu saja sangat mempengaruhi pilihan kata, maupun gaya penulisan yang dibuat. Faktor-faktor eksternal ini yang menjadi penyebab munculnya dua ragam bahasa tulis yaitu ragam bahasa tulis nonformal dan ragam bahasa tulis formal.

Ragam tulis nonformal adalah ragam bahasa tulis yang bentuknya bebas, tidak terikat tatabahasa dan cenderung bergantung pada gaya penulisannya.  Contoh ragam bahasa tulis tidak formal adalah teks SMS atau email dari anak berusia tujuh belas tahun pada temannya yang seumuran, antara rekan kerja di kantor yang sangat akrab, atau antara saudara kandung.

Komunikasi jenis yang pertama ini biasanya akan memunculkan tulisan yang bersifat tidak formal, yang di dalamnya terdapat kosa-kata gaul seperti kosakata guwe, lu, nggak dan kosakata lainnya seperti ciyus, lebay. Selain itu, sering pula muncul kosakata berbahasa daerah seperti nggih, sampun, maupun kosakata yang bersifat vulgar seperti panggilan makian cuk, babi, dan lain-lain.

Selain itu, penulisan yang dilakukan juga kebanyakan tidak standar seperti munculnya singkatan-singkatan seperti hjn (hujan), kmn (ke mana), penggunaan satu huruf yang mewakili sata kata seperti Q (aku), n (dan). Ditambah pula dengan adanya penggunaan bahasa asing yang tidak semestinya, seperti “Di home aja (di rumah saja), kamu itu too serious (kamu itu terlalu serius).” Penulisan ragam nonformal juga bisa terlihat dari penambahan suara/bunyi bahasa pada kata, seperti mamah, papah, kalok, sampek, serta penggunaan kombinasi huruf besar dan kecil, seperti dalam kalimat tanya, “Jam bRaPa Tesx mbAk?” (jam berapa tesnya mbak?). Selain itu, dapat pula ditunjukkan dengan  penggantian huruf dengan angka karena kesamaan bentuk, seperti “D4h b4ca s0l0post b3lum?” (sudah baca solopost belum?), permainan tanda baca seperti “ti2p cl M j bwt tM?n2q :)” (titip salam aja buat teman-temanku). Masih pula ditambah dengan permainan simbol matematika, seperti bwt c%p0zt,+t0p adja” (buat solo post tambah top aja), dll. Dalam ragam ini, ketepatan terpahaminya pesan tidak menjadi prioritas karena fokus dari gaya tulisan ini adalah kedekatan emosional dan persahabatan.

Ragam bahasa tulis formal adalah ragam bahasa yang cenderung menggunakan bahasa yang lebih baku, diksinya pilihan, tidak disingkat, andaikata ada kosakata bahasa asing yang harus dilibatkan, maka kosakata bahasa asing yang dimasukkan tersebut memang dibutuhkan untuk memperjelas pesan, serta adanya kehati-hatian penulisan karena latarnya yang lebih serius. Adapun contoh dari ragam bahasa tulis formal adalah surat ijin tidak masuk sekolah yang dikirim orang tua siswa pada guru di sekolah, SMS yang dikirim mahasiswa pada dosennya, e-mail yang dikirim oleh dua orang dewasa yang memiliki hubungan sekadar relasi bisnis, surat permohonan dari bawahan pada atasan, dan sejenisnya. Pada komunikasi jenis kedua ini, ketersampaian dan keterpahaman pesan menjadi prioritas. Dengan kata lain, dalam ragam bahasa tulis formal, kita dituntut untuk memenuhi tulisan kita dengan kelengkapan unsur tata bahasa dan struktur kalimatnya seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan dan kecermatan dalam pemilihan kosa kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide. 



The opinions and other information contained in OxfordWords blog posts and comments do not necessarily reflect the opinions or positions of Oxford University Press.

Powered by Oxford