Batikedited

Batik: Ciri Khas, Ungkapan Budaya, dan Kebanggaan Orang Indonesia


Batik kini sudah menjadi ciri khas dan ungkapan budaya orang Indonesia. Batik yang dulunya dianggap sebagai kain tradisional berhasil bertransformasi menjadi kain populer, bahkan sudah pula memiliki berbagai rancangan modern. Tidak hanya dalam perhelatan resmi, orang Indonesia juga sering memakai batik dalam berbagai kegiatan, seperti pada saat kerja atau kuliah. Selain itu, ketika pergi ke luar negeri untuk menghadiri suatu acara dan diminta mengenakan pakaian khas Indonesia, biasanya batik yang akan pertama melintas di pikiran kita. Anda setuju, bukan?

Tulisan ini bertujuan untuk membahas istilah, sejarah singkat, dan kondisi kekinian batik. Sebagai orang Indonesia, kita perlu tahu informasi tentang salah satu produk budaya kebanggaan bangsa ini.


 

Istilah batik

Kata “batik” berasal dari bahasa Jawa yang ejaan aslinya adalah “bathik”. Keberadaan huruf “h” dalam suku kata “-thik” menyimbolkan perbedaan pelafalan antara “bathik” bahasa Jawa dan “batik” bahasa Indonesia. Ada juga yang berpendapat bahwa “batik” berasal dari perpaduan dua kata dalam bahasa Jawa, yakni “amba” yang berarti ‘menulis’ dan “tik” yang berarti ‘titik’. Akan tetapi, pendapat ini bisa diperdebatkan karena “amba” menurut para penutur bahasa Jawa berarti ‘luas’. Pelafalan kata “tik” dan “thik” dalam bahasa Jawa juga berbeda.

Selain itu, kata batik pada umumnya memiliki dua definisi, yakni kain dan metode. Definisi pertama batik adalah kain yang proses pembuatan polanya dilukis dengan lilin kemudian dicelup untuk pewarnaan. Definisi kedua batik adalah metode pembuatan pola pada kain dengan cara melukis dengan lilin, kemudian kain dicelup untuk mewarnai bagian yang tidak dilukis. Meskipun batik memiliki dua definisi, penggunaan umum kata batik sering kali tertuju pada definisi pertama. Orang Indonesia biasanya menggunakan awalan “me-“ untuk menyebut aktivitas pembuatan batik sehingga menjadi “membatik”.


    


Sejarah batik

Sejarah mengatakan bahwa beberapa pola batik mewakili status kebangsawanan di Indonesia, terutama di Jawa. Saat ini, batik telah menjadi busana khas Indonesia yang dipakai oleh berbagai kalangan. Batik juga mulai dikenal dan digemari oleh komunitas internasional. Misalnya, salah satu tokoh pahlawan dunia, Nelson Mandela, terlihat mengenakan batik dalam beberapa acara semasa hidupnya.

Selain itu, dulu, pekerjaan membuat batik didominasi oleh para perempuan karena pekerjaan ini dianggap membutuhkan keterampilan dan kesabaran. Namun setelah ditemukan teknologi batik cap, saat ini semakin banyak kaum laki-laki yang menjadikan batik sebagai mata pencaharian. Teknologi batik cap memungkinkan produksi batik dalam jumlah banyak dan dalam waktu singkat.


 

Kondisi kekinian batik

Penamaan batik di Indonesia bisa digolongkan menjadi dua kelompok: asal daerah dan jenis polanya. Beberapa batik yang namanya diambil dari asal daerah antara lain Batik Solo, Batik Pekalongan, Batik Yogyakarta, Batik Kudus, dan Batik Cirebon. Batik Kraton dan Batik Sida Luhur adalah beberapa jenis batik yang namanya mewakili jenis polanya. Seiring dengan ketenaran batik dalam industri busana, daya cipta pola batik juga semakin berkembang dan akhirnya muncul nama-nama baru dalam dunia batik.

   


Bagi perempuan, model kain batik yang awalnya dipakai sebagai rok kini memiliki semakin banyak pilihan, mulai dari kemeja sampai gaun pesta yang indah. Pilihan batik bagi laki-laki juga semakin beragam. Di Indonesia juga sering diadakan festival, pameran, atau pekan mode yang menampilkan rancangan-rancangan batik terbaru. Para perancang busana batik sering mendapatkan penghargaan positif dari masyarakat.

Batik menjadi salah satu produk budaya Indonesia yang populer. Hal ini terlihat dari berkembangnya daya cipta batik di berbagai daerah di penjuru nusantara. Sebagai orang Indonesia, kita patut bangga memiliki dan mengenakan batik, apalagi jika kita berhasil memperkenalkannya pada komunitas internasional.





Tentang penulis

Norma Sholikah adalah lulusan Master of Applied Linguistics, University of Sydney.
Mengajar, menulis, dan bertukar cerita dengan teman adalah beberapa kegiatan yang disukainya.


Opini dan informasi lain yang ada di dalam kiriman dan komentar di blog OxfordWords tidak mencerminkan opini atau pendapat Oxford University Press.

Didukung oleh Oxford