Language tips wide

Makna dan Maksud

Apa yang disampaikan di dalam bahasa Inggris dengan kata <mean>, apabila dialihkan ke dalam bahasa Indonesia terungkapkan melalui dua kata, yaitu <makna> dan <maksud>. Kata <mean> pada “What does the word stylus mean?” bahasa Indonesianya <makna>, sedangkan pada “What do you mean?” bahasa Indonesianya <maksud>.

Perbedaan di antara dua kata ini dapat dijelaskan dengan peristilahan di dalam linguistik, yang memilah telaah makna atas dua: semantik dan pragmatik. Makna <mean> pada kalimat pertama itu – makna semantik – adalah makna kata (juga rangkaian kata) yang terekam pada kamus. Makna yang terdaftar pada kamus adalah makna yang belum dipakai dalam konteks komunikasi. 

Di dalam kamus terdapat kata yang memiliki lebih dari satu makna (polisemi). Namun, dalam pemakaian berbahasa, masing-masing makna ini munculnya salah satu. Perbedaan antara makna yang satu dan yang lain terlihat saat digunakan pada rangkaian kata. Dua makna kata <susah>, yang terpapar pada kamus, misalnya, terbedakan maknanya pada rangkaian kata (a) “gambar wajah orang susah” dan (b) “lowongan pekerjaan susah sekarang”. Kata <pukul> terbedakan maknanya antara (a) “pukul berapa” dan (b) “pukul gong”, “saya pukul”.

Kamus mendaftar kemungkinan atau potensi makna, sebelum dipakai dalam berbahasa. Makna semantik adalah makna yang tidak terkait dengan konteks komunikasi. Perbedaan makna polisemi memang baru mengemuka dalam rangkaian kata (frasa atau kalimat), seperti pada contoh (a) dan (b) itu, tetapi pemakaian kata pada (a) dan (b) ini bukan dalam ranah konteks komunikasi, masih dalam penyusunan kalimat.

Makna yang terkait dengan konteks komunikasi adalah makna pragmatik, yaitu makna yang belum tentu dapat ditangkap secara jelas apabila hanya mengandalkan makna semantik semata. Makna semantik rentetan kata “sudah jam lima” dapat ditelusuri kata per katanya pada kamus. Apabila dialihkan ke dalam bahasa Inggris, rentetan katanya menjadi “it’s five o’clock”. Yang dialihbahasakan di sini adalah makna semantik. Adapun makna pragmatiknya, yaitu, makna penuturan rentetan kata ini, yang tidak tertangkap berdasarkan makna dari kamus, berada di benak penutur. Makna pragmatik baru jelas di dalam konteks komunikasi: siapa yang menuturkan, dituturkan kepada siapa, di mana, kapan, dan pada situasi seperti apa.

Saat rentetan kata “sudah jam lima” dituturkan oleh seorang perawat kepada saya, yang sedang berkunjung di kamar pasien, maksud penutur atau makna pragmatiknya adalah perintah bagi saya untuk meninggalkan kamar pasien. Makna pragmatik ini tidak terungkap secara eksplisit.

Makna pragmatiknya lain lagi apabila rentetan kata yang sama itu dituturkan pada konteks komunikasi yang berbeda Apabila itu diucapkan oleh seorang peserta rapat saat rapat sedang berlangsung, maksudnya mengingatkan atau mengajak supaya rapat diakhiri. Namun, apabila itu dituturkan saat rapat belum dimulai, maksud tuturannya berkebalikan: ajakan untuk memulai rapat. Kemungkinan pemaknaan yang lain lagi masih ada, bergantung pada konteks yang bagaimana tuturan itu diutarakan.

Singkatnya, <makna> adalah urusan bidang linguistik yang namanya semantik, sedangkan <maksud> urusan pragmatik. <Maksud> diistilahkan juga dengan “makna penutur” (speaker meaning). Jadi, <mean> pada “What does the word stylus mean?” adalah makna kamus, sedangkan <mean> pada “What do you mean?” adalah makna penutur.

(Prof. Bambang Kaswanti Purwo, Unika Atma Jaya, Jakarta)


Opini dan informasi lain yang ada di dalam kiriman dan komentar di blog OxfordWords tidak mencerminkan opini atau pendapat Oxford University Press.

Didukung oleh Oxford