Languages01

Menjadi Generasi Multibahasa Berprestasi

Dominasi bahasa Inggris dalam dunia pendidikan dan profesional membuat kemampuan multibahasa menjadi kebutuhan yang mendasar di era global. Bangsa Indonesia yang kebanyakan dibesarkan secara dwibahasa sebaiknya melihat tantangan bahasa ini sebagai peluang emas. Menguasai bahasa daerah, nasional, dan internasional (bahasa Inggris) tidak hanya menjanjikan keberhasilan komunikasi dalam berbagai konteks, tetapi juga kesempatan untuk meraih mimpi dan prestasi yang lebih tinggi.

Bangsa Indonesia yang mempelajari bahasa Inggris biasanya akan mengalami proses transbahasa atau campur-kode dalam komunikasinya. Peristiwa ini umumnya ditandai dengan diselipkannya kosakata bahasa Inggris pada saat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Transbahasa sebaiknya disikapi dengan positif, mengingat fenomena ini telah menjadi kebiasaan umum dalam masyarakat. Dalam dunia pendidikan maupun profesional, menyelipkan kata atau kalimat bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari juga menjadi hal yang wajar. Selain itu, tidak semua kosakata bahasa Indonesia dapat mewakili kosakata bahasa Inggris yang jumlahnya sangat banyak – bahasa Inggris menyandang status global dan telah menyerap kosakata dari ratusan bahasa di berbagai belahan dunia.

Untuk memperkaya bahasa Indonesia, kita juga perlu mulai menggunakan kata-kata baru dalam bahasa Indonesia sebagai sandingan kata bahasa Inggris yang populer. Kata-kata baru ini biasanya diusulkan oleh para ahli bahasa dalam rangka melestarikan dan mengembangkan bahasa Indonesia. Beberapa contohnya adalah daring (dalam jaringan) untuk sandingan kata online, juklak (petunjuk pelaksanaan) untuk rundown, surel (surat elektronik) untuk email, dan narahubung untuk contact person (untuk penjelasan mengenai strategi penerjemahan, lihat tautan forum http://bit.ly/ID_penerjemahan).

Para pemuda Indonesia yang memiliki kemampuan multibahasa juga diharapkan dapat mencapai tingkat kefasihan. Kefasihan kini tidak lagi diartikan sebagai kelancaran dalam berkata-kata atau berbicara. Lebih dari itu, kefasihan adalah kemampuan menggunakan dan menyesuaikan domain bahasa berdasarkan konteks komunikasi dan kebutuhan lawan bicara. Misalnya, kefasihan multibahasa seseorang dibuktikan dengan kemampuannya menggunakan bahasa Inggris secara resmi ketika menulis surel kepada calon dosen pembimbing S3 atau saat memberikan presentasi di sebuah konferensi internasional. Di lain waktu, dia juga mampu menggunakan bahasa daerah dengan luwes dan mudah dimengerti pada saat memberikan penyuluhan bagi penduduk di suatu daerah terpencil.

Ketidakfasihan berbahasa akan timbul apabila generasi multibahasa tidak mampu menerapkan domain bahasa sesuai dengan konteks komunikasi. Misalnya, seseorang mengirim pesan sehari-hari kepada sahabatnya dengan menggunakan bahasa Indonesia yang resmi dan kaku. Meskipun bahasa Indonesia yang dipakai baik dan benar, pengirim pesan menjadi terlihat tidak luwes karena bahasa yang diterapkan kurang tepat. Di sisi lain, seorang mahasiswa dianggap kurang sopan apabila mengirim pesan untuk pertama kalinya kepada dosen dengan bahasa percakapan sehari-hari. Maka dari itu, kefasihan dalam berbahasa menjadi hal yang penting untuk membina hubungan antarmanusia.

Era globalisasi dan digitalisasi membuat masyarakat Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk menjadi generasi multibahasa yang fasih. Tidak hanya luwes dalam berkomunikasi dengan bahasa daerah dan bahasa Indonesia, namun juga harus menguasai bahasa Inggris untuk meraih pendidikan dan karir yang lebih cemerlang. Negara Indonesia yang terdiri dari berbagai suku telah melahirkan generasi dwibahasa yang menguasai bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Dengan mempelajari bahasa Inggris, masyarakat Indonesia akan memantapkan kefasihan berbahasa untuk menjadi generasi multibahasa yang berprestasi gemilang dan mendunia.


Tentang penulis

Norma Sholikah adalah lulusan Master of Applied Linguistics, University of Sydney.
Mengajar, menulis, dan bertukar cerita dengan teman adalah beberapa kegiatan yang disukainya.

Opini dan informasi lain yang ada di dalam kiriman dan komentar di blog OxfordWords tidak mencerminkan opini atau pendapat Oxford University Press.

Didukung oleh Oxford