Spelling wide

Kata yang Sering Salah Eja

Bahasa merupakan alat komunikasi yang setiap hari digunakan untuk menyampaikan ide atau gagasan, baik secara tulis maupun lisan. Karena telah menjadi sesuatu yang dipakai sehari-hari, pemakai bahasa terkadang tidak merasakan lagi apakah bahasa yang digunakan itu benar  atau salah. Padahal, sebagian dari mereka sudah mempelajarinya sejak kecil, baik secara formal maupun nonformal.

Hal yang sama terjadi pada bahasa Indonesia. Masih banyak penutur bahasa Indonesia yang tidak mengetahui  benar atau salahnya sebuah kata. Pada umumnya, bentuk kata yang salah itu sangat lazim digunakan, bahkan di ruang publik. Akibatnya, mereka mereka menganggap bahwa apa yang lazim digunakan itu adalah bentuk yang benar.

Berdasarkan pencarian terbanyak pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, ada sepuluh kata yang paling sering dicari. Itu dapat menjadi indikasi bahwa kata-kata tersebut adalah kata yang sering salah eja. Berikut adalah kesepuluh kata tersebut.

1. Praktek

Bentuk yang benar adalah praktik. Kata praktik diserap dari bahasa Belanda praktijk. Bentuk praktek sangat sering dijumpai, dia antaranya, pada plang dokter. Misalnya, sering tertulis “Dokter Praktek”  atau “Praktek Setiap hari". Kata praktik selaras dengan kata praktikum, tidak dengan praktekum.

2. Resiko

Bentuk yang benar adalah risiko. Banyak yang mengira bahwa kata ini diserap dari bahasa Inggris risk. Ternyata, kata ini diserap dari bahasa Belanda risico.

3. Analisa

Bentuk yang benar adalah analisis. Kata ini diserap dari bahasa Belanda analyse atau Inggris analysis. Unsur -lyse dalam bahasa Belanda dan -lysis dalam bahasa Inggris diserap menjadi -lisis dalam bahasa Indonesia. Bentuk analisa sering digunakan dalam konteks penelitian, seperti “menganalisa”, “hasil analisa”, atau “analisa data’. Seharusnya ditulis “menganalisis”, “hasil analisis”, atau “analisis data”. Bentuk analisa itu menyerap dari bahasa Belanda analyse. Bentuk yang mirip dengan kasus ini adalah kata sintesa (Belanda synthese, Inggris synthesis)  dan diagnose (Belanda, Inggris diagnose).

4. Nafas

Bentuk yang dianggap baku adalah napas. Kata ini diserap dari bahasa Arab نفس. Jika melihat bentuk sumbernya, huruf yang digunakan adalah ف (fa). Semestinya, jika seturut kaidah, bentuk yang tepat adalah nafas, seperti kata fakir (فقير)  dan fitnah (فطنة).

5. Memerhatikan

Bentuk yang benar adalah memperhatikan. Banyak yang mengira bahwa kata memperhatikan berkata dasar perhati yang kemudian mendapatkan afiks meng- dan -kan. Kata memperhatikan mempunyai kata dasar hati yang mendapatkan afiks meng-, per-, dan -kan.

6. Mempengaruhi

Bentuk yang benar adalah memengaruhi. Bentuk mempengaruhi mempunyai kata dasar pengaruh. Dalam bahasa Indonesia berlaku aturan bahwa kata dasar yang huruf pertamanya k, p, s, dan t, jika mendapat imbuhan meng-, huruf tersebut akan luluh. Banyak yang mengira bahwa peng dalam kata pengaruh itu adalah prefiks/awalan, padahal tidak. Contoh lain adalah kata percaya, perkara, dan perkosa. Unsur per pada kata tesebut bukan merupakan prefiks. Jadi, bentuk yang benar untuk ketiga kata itu adalah memercayai (bukan mempercayai), memerkarakan (bukan memperkarakan), dan memerkosa (bukan memperkosa). 

7. Aktifitas

Bentuk yang benar adalah aktivitas. Bentuk ini diserap dari bahasa belanda activiteit. Akhiran -teit dalam bahasa Belanda diserap menjadi -tas dalam bahasa Indonesia. Banyak yang mengira bahwa kata aktifitas merupakan bentukan dari kata aktif dan -itas. Yang sejenis ini adalah kata standardisasi, yang diserap dari kata standardization, bukan dari standar + -isasi.

8. Jaman

Bentuk yang benar adalah zaman. Kata ini diserap dari bahasa Arab زمن. Huruf ز (zai) dalam bahasa Arab dilambangkan dengan huruf z dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, bentuk jaman tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Contoh bentuk yang serupa, di antaranya ziarah (bukan jiarah), zina (bukan jina), dan rezeki (bukan rejeki).

9. Ijin

Bentuk yang benar adalah izin. Seperti halnya kata zaman, kata izin diserap dari bahasa Arab اذن. Huruf ذ (zal) dalam bahasa Arab juga dilambangkan dengan huruf z dalam bahasa Indonesia. Dahulu, huruf ذ sering dilambangkan dengan huruf dz. Oleh karena itu, muncullah varian lain, yaitu idzin. Bentuk-bentuk lain yang serupa, di antaranya, azan (bukan adan atau adzan), dan zikir (bukan dikir atau dzikir), dan ustaz (bukan ustad atau ustadz).

10. Sekedar

Bentuk yang benar adalah sekadar. Kata ini merupakan bentuk turunan dari kata dasar kadar yang bermakna ‘kuasa; kekuatan’ yang mendapat prefiks se-. Kata sekadar dapat bermakna 1 ‘hanya untuk’ seperti dalam “acara ini sekadar formalitas”, 2 ‘seperlunya; seadanya’ seperti dalam  “ia bekerja sekadarnya, tidak dengan hati”, 3 ‘sesuai atau seimbang dengan’ seperti dalam “cintailah kekasihmu sekadarnya, siapa tahu ia akan menjadi musuhmu suatu hari nanti”.

See more from Pengucapan dan ejaan