Sound wide

Pelafalan dalam Bahasa Indonesia

Bagi sebagian pemelajar, bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah dipelajari. Salah satu alasannya adalah karena pelafalan atau pengucapan dalam bahasa Indonesia cukup mudah. Misalnya, huruf c akan selalu dilafalkan [ce], baik dalam kata cinta, cuci, mapun kaca. Di bahasa lain, misalnya bahasa Inggris, huruf c dapat dilafalkan seperti huruf s pada kata  century, huruf c pada kata charity, atau huruf k pada kata computer.

Namun, tidak semua huruf dalam bahasa Indonesia dilafalkan dengan satu bunyi.  Dari lima huruf vokal (a, i, u, e, dan o) yang ada, huruf e mempunyai pelafalan lebih dari satu, yaitu [e], [ɛ], dan [ǝ]. Misalnya, huruf e pada kata enak dilafalkan [e], pada kata ember dilafakan [ɛ], dan pada kata emas dilafalkan [ǝ]. Untuk menghindari keraguan dalam penulisan, dapat digunakan tanda diakritik (ˆ) untuk bunyi [ǝ],  (ˊ) untuk bunyi [e], dan (ˋ) untuk bunyi [ɛ], seperti dalam contoh berikut.

  • Anak-anak sedang bermain di teras (téras).
  • Upacara itu dihadiri oleh para pejabat teras (têras).
  • Kami menonton film seri (sèri).
  • Pertandingan itu berakhir seri (sêri).

Bahasa Indonesia mempunyai empat buah diftong, yaitu ai, au, oi, dan ei  yang masing-masing dilafalkan dengan [ay], [aw], [oy], dan [ey]. Kedua huruf vokal pada diftong itu melambangkan satu bunyi vokal yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, diftong berbeda dari deretan dua vokal yang berjejer, seperti yang terlihat dalam contoh berikut.

Diftong
Deret Vokal
[ay]
[gulay]
gulai  
[ai]
[gulai]
gulai ‘diberi gula’
[aw]
[harimaw]
harimau
[au]
[mau]
mau
[oi]
[tomboy]
tomboi
[oi]
[meɲjagoi]
menjagoi
[ei]
[survey]
survei



Untuk huruf konsonan, ada satu huruf yang mempunyai dua pelafalan, yaitu huruf x yang dapat dilafalkan [eks] atau [s]. Bunyi [eks] muncul seperti pada sinar-X, sementara jika berada pada posisi awal dilafalkan [s], seperti pada xilem, xilofon, atau xenon. Huruf x biasanya digunakan untuk nama diri dan keperluan ilmu .

Selain itu, terdapat konsonan gabungan yang memiliki satu bunyi, yaitu kh, ng, ny, dan sy. Konsonan gabungan kh dilafalkan [x], seperti pada kata khas, akhir, dan tarikh. Konsonan gabungan ng dilafalkan [ŋ], seperti  pada kata ngarai, bangun, dan kucing. Konsonan gabungan ny dilafalkan [ɲ], seperti pada kata nyiur, tanya, dan penyu. Konsonan gabungan sy dilafalkan [ʃ],  seperti pada kata syah, syarat, dan penyu.


Kesalahan Umum

Meskipun cara pelafalan telah diatur secara jelas dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, masih banyak orang yang melakukan kesalahan pelafalan. Hal itu boleh jadi disebabkan oleh ketidaktahuan, kebiasaan, atau pengaruh dari bahasa lain. Misalnya, kata energi, yang semestinya dilafalkan [enǝrgi], sering kali dilafalkan [enerhi], [enǝrsi], atau [enerji]. Contoh lainnya adalah sebagai berikut.

Kata
Benar
Salah
teknik
[teknik]
[tehnik]
tegel
[tegel]
[tehel]
teknologi
[tɛknologi]
[tehnoloxi], [tehnoloxi]
biologi
[biologi]
[bioloxi]
peka
[peka]
[pǝka]
komputer
[komputǝr]
[kompyuter]
ide
[ide]
[idǝ]
sistem
[sistem]
[sistǝm], [sistim]
bus
[bus]
[bǝs], [bis]
truk
[truk]
[trǝk]
peta
[pǝta]
[peta]
cokelat
[cokǝlat]
[soklat]
produk
[produk]
[prodak]
label
[labɛl]
[lebǝl]
detail
[dǝtail]
[dǝtil]
karier
[karier]
[karir]
khawatir
[xawatir]
[kawatir], [hawatir]
manajer
[manajǝr]
[menejǝr]
gender
[gendǝr]
[jendǝr]
komplet
[komplɛt]
[kopmplit], [kumplit]

Untuk singkatan dan akronim, aturan pelafalan tidak berubah. Misalnya, singkatan PBB, SMA, daring, dan pemilu dilafalkan [pe be be], [ɛs ɛm a], [dariŋ], dan [pǝmilu]. Yang sering membingungkan adalah ketika singkatan dan akronim itu adalah berasal dari bahasa selain bahasa Indonesia, misalnya bahasa Inggris. Singkatan IMF, misalnya, apakah dilafalkan [i ɛm ɛf] atau [ai ɛm ɛf]? Apakah [ti vi] atau [te ve] untuk TV? Apakah [a ce] atau [ei si] untuk AC? Apakah [we ce] atau [we se] untuk WC?  Apakah [pe ha de] atau [pi eɪtʃ di] untuk Ph.D.? Jika digunakan dalam konteks bahasa Indonesia, singkatan kata asing itu di­lafalkan sesuai dengan bunyi huruf-huruf itu dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, singkatan tersebut masing-masing dilafalkan [i ɛm ɛf] untuk IMF, [te ve] untuk TV, [a ce] untuk AC, [we ce] untuk WC, dan [pe ha de] untuk Ph.D..

Berbeda dari pelafalan singkatan kata asing, pelafalan akronim asing disesuaikan dengan lafal dalam bahasa asalnya. Itu karena akronim dianggap sebagai kata biasa. Jadi, UNESCO, UNICEF, dan NATO dilafalkan [juːˈneskəʊ], [juːnɪsef], dan [neɪ toʊ) seperti dalam bahasa Inggris.


See more from Pengucapan dan ejaan