Professional 20education

Pengembangan Profesi Guru melalui Kaji Tindak (Action Research)

Profesi guru merupakan profesi yang mulia. Dibalik kemuliaannya, profesi ini menuntut guru untuk lebih terbiasa dengan budaya akademis yang selama ini terabaikan, yakni bahwa pengembangan profesi guru dalam paradigma terbaru mesti berdasarkan penelitian. Artinya segala tindakan guru dalam menjalankan profesinya, khususnya dalam proses belajar mengajar, mesti berdasarkan rasionalitas dan berbasiskan penelitian.

Di antara sekian banyak jenis penelitian, penelitian berupa Kaji Tindak (Action Research) yang paling tepat harus dikuasai oleh guru karena jenis penelitian ini sudah melekat dalam kegiatan profesi guru sehari-hari. Artinya, penelitian Kaji Tindak dapat dilakukan oleh guru saat mengajar di sekolah sendiri dan dapat juga dikerjakan secara bersama-sama dengan rekan sejawat. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui!

Melalui Kaji Tindak, pola pikir guru seyogianya dapat berubah, karena kegiatan belajar mengajar yang selama ini diyakini biasa saja dapat berubah menjadi luar biasa. Selain itu, mungkin juga akan ditemukan bahwa apa yang selama ini diyakini sudah tepat dapat terbukti tidak tepat secara didaktik-metodik.

Dilihat dari namanya, Kaji Tindak merujuk pada adanya kegiatan kajian dan tindakan. Gabungan kedua kegiatan inilah yang membedakannya dari penelitian-penelitian lain. Bila dilakukan di ruang kelas, jenis penelitian ini biasa disebut Penelitian Tindakan Kelas atau classroom action research. Penelitian ini dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sendiri sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat.

Tujuan Kaji Tindak:

Sekurang-kurangnya ada tiga tujuan dari Kaji Tindak dalam konteks pendidikan, yaitu:

  1. Menyinergikan antara praktik dan teori untuk meningkatkan kemampuan peserta didik secara optimal melalui proses siklus tindakan dan refleksi yang dilakukan secara kolaboratif dan partisipatif.
  2. Mengubah perilaku praktik guru atau dosen dari hanya sebagai konsumen pengetahuan dan teknisi (mengadopsi atau menerapkan apa yang dikatakan atau disarankan para ahli), menjadi agen yang berperan secara penting sebagai seorang peneliti dan praktisi yang melakukan proses berpikir untuk memaknai pengalaman yang sudah dilalui, guna menuju perencanaan ke masa depan yang lebih baik.
  3. Meningkatkan kesetaraan peran antara guru dan dosen sebagai peneliti, dengan siswa dan mahasiswa yang diteliti, sehingga semuanya sama-sama berperan dalam memecahkan permasalahan kualitas proses belajar mengajar, agar tercipta keadaan baru yang lebih baik untuk semua pihak yang terkait, baik guru atau dosen maupun siswa atau mahasiswa, serta institusi.


Empat ciri kunci atau karakteristik Kaji Tindak

Para ahli Kaji Tindak, seperti yang dikutip oleh Alwasilah (2011) dalam bukunya yang berjudul Action Research, menyebutkan empat ciri kunci yang terdapat dalam Kaji Tindak, yaitu:

1. Penelitian berawal dari kerisauan guru akan kinerjanya

Dalam melakoni profesi sehari-hari, guru secara sadar merasakan sejumlah masalah di kelas yang perlu diperbaiki dan diselesaikan. Timbulnya rasa keingintahuan guru untuk bertanya-tanya tentang situasi pembelajaran di kelasnya, sehingga bertanya mengapa begini dan mengapa begitu, akan membawa guru kepada (1) penelitian yang berorientasi kepada tindakan dan refleksi; (2) Pemahaman teori atau konsep melalui tindakan dan refleksi; dan, (3) Penelitian yang berbasis komunitas.

2. Penelitian melalui refleksi diri

Kaji Tindak berangkat dari permasalahan pembelajaran riil sehari-hari, spesifik, dan kontekstual yang dihadapi oleh guru dan siswa, atau oleh dosen dan mahasiswa, yang harus dipecahkan oleh guru atau dosen. Kaji Tindak memiliki ciri khusus, yaitu sikap reflektif yang berkelanjutan terhadap proses dan hasil penelitian secara terus-menerus untuk mendapatkan penjelasan tentang peningkatan, kemunduran, kekurangefektifan dan sebagainya, untuk dapat digunakan dalam memperbaiki proses tindakan pada siklus kegiatan berikutnya.

Berbeda dengan jenis penelitian lain, yang sering mengutamakan pendekatan eksperimental, Kaji Tindak memperbolehkan guru untuk menggunakan berbagai pendekatan penelitian seperti positivis, interpretatif dan kritis dalam mengombinasikan antara teori dan praktik. Dalam hal ini, guru mempunyai fungsi ganda: sebagai guru dan sebagai peneliti. Sebagai contoh, guru yang menghadapi masalah dengan tingkat penguasaan siswa yang rendah dalam memahami suatu topik pelajaran, mencoba melakukan refleksi terhadap apa yang sudah dikerjakan. Contoh refleksi yang dilakukan adalah:

  • Bagaimana cara saya menjelaskan materi atau topik pelajaran, apakah terlalu cepat atau lambat?
  • Bagaimana cara saya memberikan ilustrasi untuk menunjang pemahaman siswa?
  • Bagaimana proses interaksi di dalam kelas, apakah saya mendominasi kelas? Ataukah saya memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya?
  • Bagaimana proporsi antara pemberian tugas dengan pembahasan atau perbaikan terhadap tugas-tugas siswa?
  • Bagaimana cara saya berkomunikasi dengan siswa? Apakah sudah menggunakan bahasa yang sesuai tingkatan siswa? Atau malah menggunakan bahasa yang terlalu sulit dipahami oleh siswa?

3. Kolaboratif dan Partisipatif

Dalam upaya melakukan Kaji Tindak, tentu saja guru dapat meminta bantuan koleganya atau ahli dari institusi lain untuk bersama-sama menemukan cara memecahkan masalah yang dihadapi. Artinya guru tidak harus bekerja sendiri, melainkan guru harus bersinergi, saling bahu-membahu dan saling membantu untuk menyelesaikan permasalahan di dalam kelas agar kualitas pembelajaran dapat meningkat.

4. Bertahap dan sinambung

Dalam Kaji Tindak, upaya untuk mencapai perbaikan pembelajaran di kelas tidak cukup hanya dilakukan sekali, melainkan hingga dua atau tiga kali dengan melakukan modifikasi terhadap perlakuan itu sampai masalah yang ingin diselesaikan dianggap sudah teratasi. Pada hakikatnya, Kaji Tindak merupakan proses berulang yang menghubungkan antara tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan perefleksian, serta bertujuan untuk mencapai perubahan, sekecil apa pun, dalam proses belajar mengajar, sehingga kualitas pembelajaran dapat meningkat.

Dengan menyimak ciri-ciri di atas, dapat disimpulkan bahwa kunci utama dalam Kaji Tindak adalah adanya tindakan (action) yang dilakukan berulang-ulang dalam rangka mencapai perbaikan pembelajaran di kelas. Melalui Kaji Tindak akan dapat dihasilkan suatu model pembelajaran yang efektif.


See more from Penelitian