Philosophy

Filosofi Ketupat (kupat) Lebaran dalam Masyarakat Jawa

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi 5 (KBBI5), ketupat merupakan makanan yang dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman pucuk daun kelapa, berbentuk kantong segi empat dan sebagainya, kemudian direbus, dimakan sebagai pengganti nasi. Kebiasaan memasak dan memakan ketupat (kupat) bersama keluarga adalah pada saat hari raya Idulfitri atau yang dikenal di Indonesia sebagai hari Lebaran. Kebiasaan ini dilaksanakan oleh Sunan Kalijaga atau Raden Said yang lahir tahun 1450, yang merupakan salah satu dari sembilan tokoh penyebar agama Islam di Pulau Jawa.

Seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran pemaknaan terhadap kesakralan ketupat sehingga hanya menjadi makanan yang seolah-olah wajib ada setiap umat Islam merayakan Lebaran. Saat lebaran inilah antara umat Islam ada prosesi saling meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat baik disengaja mau pun tidak disengaja. Masyarakat di pulau Jawa melakukan prosesi yang dikenal dengan sungkeman, bersimpuh di hadapan orang tua sambil memohan ampun atau maaf. Ini merupakan simbolisasi dari rasa hormat kepada orang tua dan bersikap rendah hati serta berharap agar mendapat keikhlasan dan ampunan dari kedua orang tua maupun dari kakek dan nenek.

Filosofi Ketupat

Berdasarkan bentuk geometri, ketupat berbentuk segi empat yang bermakna empat arah angin dan satu pokok pangkal atau yang menjadi pumpunan. Ini bermakna selama hidupnya ke mana pun manusia melangkah akhirnya akan kembali kepada yang menciptakannya yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Kerumitan anyaman daun kelapa muda dari ketupat merupakan simbol dari banyaknya kesalahan yang diperbuat oleh manusia selama menjalani kehidupannya. Kebersihan hati setelah prosesi saling bermaafan disimbolkan oleh warna putih ketupat ketika dibelah. Sedangkan makna kebersamaan, kesejahteraan, ketenteraman, keamanan dan keselamatan disimbolkan oleh butiran beras yang menyatu. Sedangkan daun kelapa muda yang digunakan untuk membungkus ketupat diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata janur yang berasal dari bahasa Arab yang bermakna telah datang cahaya (jaa-a al-nur) atau bermakna keadaan terbebas dari dosa, cela dan noda atau keadaan suci.

Filosofi Lebaran

Secara etimologi lebaran konon memiliki padanan kata yang berkaitan dengan kata lebaran itu sendiri. Lima kata tersebut adalah lebaran, luberan, laburan, leburan dan liburan. Penjelasan dari kelima kata tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, lebaran yang merupakan hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan atau lebih dikenal dengan hari raya Idulfitri, berasal dari kata lebar dengan ditambah imbuhan –an. Kata lebar dalam lebaran tidak bermakna luas atau lapang. Kata lebar dalam lebaran bermakna lapang dada atau lapang hati yaitu orang yang selalu suka memaafkan kesalahan orang lain serta mempunyai sifat sabar dalam menghadapi perilaku orang lain dalam kehidupan bermasyarakat.

Kedua, lebaran juga dapat bermakna luber yang dalam KBBI5 bermakna melimpah, meluap, melembak. Artinya, orang yang lulus dalam penggemblengan di bulan Ramadan selama sebulan penuh akan melimpah rezekinya setelah selama sebulan penuh melakukan kebaikan seperti melaksanakan puasa sebulan penuh, beribadah sholat, melaksanakan zakat, shodaqoh dan infaq, serta kebaikan-kebaikan lainnya.

Ketiga, lebaran juga berasal dari kata laburan yang bermakna menyapu (mengoles, mengecat) dengan kapur tembok. Kebiasaan masyarakat yang selalu mengecat rumahnya agar nampak indah dan bersih setiap menjelang datangnya Idulfitri akhirnya identik dengan makna Idulfitri itu sendiri.

Keempat, makna lain dari lebaran berasal dari bahasa Jawa leburan yang artinya menyatukan. Setelah sebulan penuh mengalami proses ujian kesabaran dan ujian ketabahan dalam menghadapi godaan duniawi seperti makanan dan minuman yang tidak boleh dimakan dan diminum dari mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari, serta ujian kesabaran dalam menahan nafsu amarah, maka diharapkan kita mampu mendekati dalam tingkat tertentu pada sifat-sifat Tuhan seperti sifat kasih sayang, pemurah kepada sesama, pemaaf dan sifat-sifat baik lainnya.

Kelima, lebaran dapat bermakna liburan, bebas dari rutinitas bekerja dan sekolah. Di hari raya Idulfitri ini, pemerintah menetapkan hari libur bersama secara nasional selama empat sampai lima hari yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai momen liburan. Selain itu, semua stasiun televisi nasional juga memberitakan sehari penuh dari pagi sampai malam semua kegiatan lebaran selama berhari-hari, baik menjelang arus mudik maupun menjelang arus balik. Sehingga, kata liburan menjadi dekat maknanya dengan kata lebaran.

Bagi bangsa Indonesia, Idulfitri itu lebaran. Lebaran itu memaafkan, lebaran itu kesucian, lebaran itu kebahagian, lebaran itu makan-makan, lebaran itu kerinduan, dan lebaran itu lembaran baru untuk menuju kehidupan yang lebih sejahtera.


See more from Budaya dan Masyarakat