Humour

Humor dan Bahasa

Humor menurut KBBI5 (2016) adalah sesuatu yang lucu atau keadaan yang menggelikan hati. Humor dapat juga didefinisikan sebagai sesuatu yang membuat seseorang tersenyum atau tertawa. Namun humor tidak terbatas pada definisi tersebut, karena beberapa kemungkinan, misalnya sesuatu yang lucu tidak selalu ditertawakan orang, atau sesuatu yang lucu tidaklah akan dianggap lucu oleh semua orang. Bisa saja sesorang berpendapat “itu tidak lucu”, saat yang lainnya tertawa. Kendati demikian, respon adalah faktor penting dalam menentukan lucu tidaknya penyampaian humor. Penyampaian humor bisa dikatakan berhasil bila penonton tertawa.

Faktor yang Memengaruhi Keberhasilan Penyampaian Humor

Keberhasilan penyampaian humor dipengaruhi oleh beberapa faktor. Aspek sosial memiliki peran kuat terhadap respon penonton atau penikmat humor. Orang yang kesepian (identik dengan anti sosial) jarang tertawa meskipun mereka menonton humor di sebuah ruangan yang berisi banyak orang yang menertawakan sebuah pertunjukan komedi. Anda bisa saja merasa sebuah humor atau komedi tidak lucu, bila menikmatinya bersama orang-orang yang berwajah serius, atau orang-orang yang tidak bisa melihat sisi lucu dari komedi yang sedang dibawakan. Artinya, bisa merasakan respon orang lain terhadap humor yang sedang dilihat adalah hal penting.

Seperti aspek bahasa lainnya, humor adalah sebuah cara menunjukkan kesetiaan dalam sebuah kelompok. Jika seseorang memberi isyarat akan melontarkan sesuatu yang lucu, para pendengarnya akan segera siap untuk tertawa. Oleh karenanya, orang sering tertawa ketika diberikan semacam isyarat, tidak peduli apakah mereka mengerti sisi lucu dari humor yang disampaikan. Konteks sosial juga berperan penting dalam menciptakan dan menyampaikan humor. Menyampaikan humor itu sulit, saat harus melintasi batas waktu dan kelompok sosial. Hal ini disebabkan karena humor bergantung pada sikap dan kultur tertentu.

Orang tidak akan tertawa bila humor yang diceritakan tentang sesuatu yang terjadi di masa lampau, yang tidak dialami atau tidak dimengerti oleh penonton. Misalnya, sesuatu yang lucu di tahun 1970an, kemungkinan akan gagal disampaikan bila diceritakan pada generasi yang tumbuh di tahun 2000an. Hal ini membuktikan bahwa penting untuk menyampaikan humor yang dimengerti oleh pihak pendengar atau penonton.

Mengapa Orang Tertawa?

Apa sebetulnya yang membuat orang tertawa? Menurut Alison Ross dalam buku The Language of Humour (1998), fitur bahasa memiliki potensi membuat orang tertawa. Menurutnya, humor bisa diciptakan dari sebuah konflik antara sesuatu yang diharapkan dengan isi humor yang disampaikan. Banyak bentuk humor yang terbentuk dari ketidakjelasan atau arti ganda (ambiguity) yang memang disengaja untuk mengecoh penonton, yang akan dilanjutkan dengan bagian pokok dalam humor (punch line).

Contoh humor yang menggunakan unsur ambiguitas adalah sebagai berikut:

A : Jangan menikah dengan gadis sekampung

B : Memangnya kenapa?

A : Menikah dengan satu gadis aja repot, apalagi menikah dengan gadis sekampung!

Ketidakjelasan bahasa dalam humor terjadi pada berbagai level, baik level fonologi, grafologi, morfologi, leksis, atau sintaksis. Contoh-contohnya adalah sebagai berikut:

Level fonologi: Bajaj pasti berlalu, yang diplesetkan dari sebuah judul film     Indonesia Badai Pasti Berlalu.

Level grafologi: Pada film kartun Bart Simpson, dia mengubah nama suatu menu makanan Cod Platter menjadi Cold Pet Rat.

Level morfologi:  

  • A: “What’s a baby pig called?”
  • B: “A piglet”
  • A: “So, what’s a baby toy called?
  • B: “A toilet”

Level leksis:  Sekwilda (sekretaris wilayah daerah) diartikan sebagai sekitar wilayah dada.

Level sintaksis:

  • A: “Enak ya, suamimu sopir, kalau Lebaran bisa Jalan-jalan naik mobil.”
  • B: “Sopir mobil tinja kok, ya ngga enak.”


Teori-teori dalam Kajian Humor

Lebih lanjut, menurut Alison Ross dalam buku The Language of Humour (1998), ada tiga teori terkait kajian humor, yaitu Teori ketidakjelasan (Incongruity), Teori Superior, dan Teori Pelepas Ketegangan (Relief Tension).

  • Teori ketidakjelasan (Incongruity)

Teori ini sudah dibahas di atas, yaitu kelucuan atau lelucon yang disampaikan dengan cara membiaskan kata, kalimat, atau makna dengan ekspektasi penonton.

  • Teori Superior

Teori yang menjelaskan bahwa penonton berada dalam posisi superior untuk menertawakan seseorang. Dalam lawakan tunggal (stand up comedy), lelucon sering disampaikan melalui metode ini. Seorang komika memerankan seorang tokoh yang biasanya menimbulkan keresahan baik bagi si komika itu sendiri, maupun bagi penonton.

  • Teori Pelepasan Ketegangan (Relief Tension)

Teori ini menjelaskan bahwa humor bisa digunakan untuk mengurangi ketegangan. Contoh penggunaannya adalah dalam dunia kesehatan: para petugas kesehatan menggunakan humor untuk mengurangi tekanan fisik dan emosi pasien-pasien mereka.

Humor tidak selalu dipersepsikan sama oleh semua orang. Sesuatu yang dianggap lucu oleh sebagian orang, belum tentu dianggap demikian oleh sebagian lainnya. Oleh karena itu, penting untuk selalu memperhatikan faktor-faktor yang memengaruhi persepsi humor dalam menyampaikan lelucon. Humor ternyata adalah sesuatu yang serius, terbukti dengan adanya teori-teori yang menjadi kerangka dalam menyampaikannya. Dengan mempelajari teori-teori tersebut, diharapkan humor akan mudah dan tepat untuk disampaikan.


See more from Budaya dan Masyarakat