Brain

Otak: Tentang Bahasa, Hemisfer dan Argumentasinya

Otak memegang kendali penuh dalam proses produksi bahasa pada manusia. Sebagai bagian dari sistem saraf manusia, ada bagian-bagian otak yang mengatur bagaimana ujaran atau tulisan dihasilkan oleh manusia. Otak terdiri dari dua bagian: batang otak dan korteks serebral. Korteks serebral inilah yang mengatur fungsi intelektual dan bahasa. Korteks serebral terbagi lagi menjadi dua bagian: hemisfer kanan dan hemisfer kiri. Hemisfer kanan tidak diuraikan sebanyak hemisfer kiri di sini, karena pengaturan bahasa diyakini lebih banyak terdapat di area hemisfer kiri.

Hemisfer kiri terdiri dari empat bagian atau lobe: lobe frontal, lobe temporal, lobe osipital, dan lobe parietal. Lobe-lobe ini mempunyai tugas sendiri-sendiri, selain tugas yang berkaitan dengan proses menghasilkan bahasa. Lobe frontal adalah bagian yang mengurusi segala hal terkait kognisi; lobe temporal berfungsi menangani urusan terkait pendengaran; lobe osipital menangani hal-hal terkait penglihatan; dan lobe parietal menangani hal-hal terkait rasa somaestetik, yaitu rasa yang ada pada tangan, kaki, muka, dsb.


Wernicke dan Broca

Wernicke dan Broca adalah dua hal yang tidak bisa dilepaskan bila kita berbicara tentang proses bahasa manusia. Wernicke adalah bagian otak yang bertanggung jawab terhadap pemahaman bahasa dan berbicara. Wernicke berasal dari nama ahli saraf dan kejiwaan dari Jerman, Karl Wernicke, yang menemukan kerusakan pada otak pasiennya di area ini, dan menyimpulkan kerusakan di area ini menyebabkan afasia.

Sementara Broca berasal dari nama ahli bedah saraf asal Perancis, Piere Paul Broca yang menyelidiki pasien yang mengalami gangguan bicara selama 21 tahun. Pasien ini hanya mampu memproduksi satu kata: Tan, dan karenanya pasien tersebut dijuluki mister Tan. Ditambah dengan sekitar 20 kasus seperti pasien Tan, Broca melakukan autopsi terhadap para pasien setelah mereka meninggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manusia berbicara menggunakan hemisfer kiri dan area otak ini sampai sekarang disebut dengan area Broca.

Ada perbedaan tanda dan gejala bila terjadi gangguan pada kedua area ini. Bila area Wernicke terganggu, manusia akan mengalami gangguan dalam memproduksi bahasa yang bermakna, artinya dia dapat berbicara dengan lancar, namun makna dan komprehensinya kacau. Sementara bila area Broca terganggu, seseorang tidak akan bisa mengucapkan kata dan kalimat. Persamaan area ini adalah keduanya sama-sama bertanggung jawab dalam pemahaman bahasa.


Peran area Wernicke dan Broca dalam Bahasa

Bagian ini bertugas utuk menginterpretasikan bunyi-bunyi bahasa dalam bentuk lisan. Input yang berupa bahasa lisan ditanggapi di lobe temporal untuk diolah secara rinci. Selanjutnya dikirim ke bagian Wernicke untuk diinterpretasikan sebagai sukukata, kata, frasa, klausa, atau kalimat, untuk diberi makna dan dipahami isinya. Bila input lisan tadi hanya informasi yang tidak perlu ditanggapi, maka informasi ini akan disimpan dalam memori. Bila informasi ini perlu ditanggapi secara verbal, maka akan dikirim ke area Broca. Area Broca bertugas memutuskan seperti apa bunyi input verbal tadi, melalui motor korteks.

Untuk input berupa tulisan, bagian korteks visual yang menanggapi input ini, lalu meneruskan ke girus anguler, yaitu bagian otak yang mengkoordinasikan daerah pemahaman dengan daerah osipital. Setelahnya baru dikirim ke area Wernicke, yang bila perlu ditanggapi secara verbal, akan diteruskan ke area Broca. Namun bila perlu ditanggapi secara visual, maka akan dikirim ke area parietal untuk proses visualisasi.

Argumentasi tentang Hemisfer dan Perannya dalam Berbahasa

Terkait hal ihwal produksi bahasa, ada beberapa argumentasi tentang hemisfer kiri, menurut Soenjono Dardjowidjoyo dalam buku Psikolonguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia (2005). Sebagian ahli mengatakan bahwa hanya hemisfer kiri yang bertanggung jawab untuk hal-hal terkait bahasa, sebagian ahli lain membantahnya dengan mengajukan bukti bahwa hemisfer kanan juga memengaruhi manusia untuk memproduksi bahasa.

Para penganut yang meyakini bahasa dipengaruhi oleh fungsi hemisfer kiri, merujuk pada beberapa hasil penelitian berikut. Penelitian Wada (1949), yang memasukkan cairan ke kedua hemisfer menunjukkan adanya gangguan bicara saat hemisfer kiri “ditidurkan”. Hal ini menunjukkan hemisfer kiri berfungsi dalam hal produksi bahasa.

Penelitian yang dilakukan oleh Kimura (1961), menunjukkan kesimpulan yang sama. Kimura memberikan input pada telinga kiri dan kanan secara simultan, dan hasilnya menunjukkan bahwa input yang masuk lewat telinga kanan jauh lebih akurat dibanding dengan yang masuk lewat telinga kiri (hemisfer kiri mengatur input dari bagian tubuh sebelah kanan).

Penelitian lain yang mendukung paham ini adalah hemispherectomy, pembedahan untuk mengambil satu hemisfer. Bila yang diambil hemisfer kiri, kemampuan berbahasa orang tersebut akan terganggu sepenuhnya; sedangkan pengambilan hemisfer kanan hanya menunjukkan sedikit gangguan, karena bahasa yang diucapkan masih dapat dipahami.

Penganut paham hemisfer kanan merujuk pada beberapa kasus, misalnya kasus anak-anak yang cedera pada hemisfer kiri sebelum berusia 11 tahun, ternyata masih dapat berbahasa seperti anak yang normal. Orang-orang yang mengalami gangguan di hemisfer kanan akan mengalami gangguan kemampuan mengurutkan peristiwa atau cerita, gangguan dalam menarik inferensi atau menyimpulkan sebuah peristiwa, tidak dapat mendeteksi kalimat ambigu, tidak mampu memahami gaya bahasa satu dengan gaya bahasa lain, dan tidak mampu membedakan jenis kalimat berdasarkan intonasi pengucapan. Walau kasus-kasus tadi menunjukkan peran hemisfer kanan yang tidak sespesifik peran hemisfer kiri, bagi penganut paham ini, tidak berarti fungsi hemisfer kanan dalam proses bahasa harus dinafikan.


See more from Pendidikan