Literature

Redefinisi Makna Literasi Abad ke-21

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, serta perkembangan kebutuhan global, dalam khazanah pembelajaran bahasa dan perkembangan sosial, definisi literasi juga telah berkembang dengan pesat. Menurut Education for All Global Monitoring Report (2006), literasi dapat dibagi ke dalam empat pengertian yang berbeda, yaitu (1) literasi sebagai seperangkat keterampilan seperti menulis, membaca dan berbicara, (2) literasi sebagai penerapan keterampiln menulis, membaca dan berbicara dalam kehidupan sehari-hari secara berterima, (3) literasi sebagai proses belajar alih-alih sebagai luran atau produk, (4) literasi sebagai jenis teks yang bervariasi baik bidang ilmunya maupun jenis teks yang dihasilkan. Secara komprehensif, dapat disimpulkan bahwa literasi merupakan konstruksi dan rekonstruksi pengetahuan, sikap, nilai, perilaku, keterampilan dan pengalaman.

Dalam kaitannya dengan literasi fungsional yang berfokus pada tugas-tugas keseharian di masyarakat, National Assessment of Adult Literacy (2003) membagi literasi ke dalam tiga klasifikasi yaitu:

  • Literasi prosa. Kemampuan untuk mencari, memahami, dan menggunakan teks seperti berita surat kabar, brosur, dan bahan ajar.
  • Literasi dokumen. Kemampuan untuk mencari, memahami, dan menggunakan teks seperti surat lamaran, surat pembayaran, jadwal kereta api, peta, tabel dan label.
  • Literasi kuantitatif. Kemampuan yang berhubungan dengan hitung-menghitung dan menggunakan informasi angka-angka yang melekat dalam sebuah teks.

Dalam bidang pendidikan literasi, Joice dan Feez (2016) dalam bukunya Exploring literacies: theory, research and practice menjelaskan bahwa ada empat pandangan literasi yang memengaruhi pendidikan literasi pada abad ke-21 ini, yaitu:

1. Literasi sebagai praktik yang dipelajari

Literasi ini diterapkan dengan cara mempelajari aturan-aturan tata bahasa tradisional dan ejaan, serta penerjemahan teks dengan fokus kepada tingkat kalimat. Membaca dan menulis menjadi representasi dari tingkat keterampilan. Dalam praktiknya, literasi jenis ini menerapkan aturan-aturan bahasa ke dalam keterampilan menulis karena diyakini ada kesepadanan antara menulis dalam bahasa ibu dan menulis dalam bahasa kedua. Teks yang menjadi sasaran literasi ini adalah teks jenis sastra. Guru dalam proses pembelajaran di ruang kelas dipandang sebagai pemegang kendali terhadap siswa.

2. Literasi sebagai proses pengkodean dan praktik keterampilan

Literasi ini diterapkan melalui keterampilan dasar yang sesuai dengan ciri-ciri kebahasaan khas, misalnya bunyi, huruf, kata, dan kalimat. Dengan pendekatan hilir-hulu (bottom-up), dari bunyi ke kalimat lengkap. Pendekatan kognitif yang digunakan berdasarkan pada pengetahuan pengejaan, dan aturan tata bahasa. Membaca dan menulis merupakan representasi dari sebuah hierarki keterampilan. Ciri khas lainnya, pembelajaran dilaksanakan melalui latihan tubian (repetition drills) dan menghafal aturan-aturan. Teks yang menjadi sasaran literasi ini adalah teks jenis bacaan anak-anak misalnya, kartu bergambar, cerita pendek dan cerita naratif. Guru dalam proses pembelajaran di ruang kelas dipandang sebagai pengembang keterampilan yang juga mengembangkan kepekaan siswa terhadap bunyi huruf yang berbeda. Teori yang menjadi dasar literasi jenis ini adalah teori Bloomfield dan Fries mengenai linguistik deskriptif; Skinner mengenai psikologi perilaku; dan Coltheart dan Wheldall mengenai psikologi kognitif.

3. Literasi sebagai Praktik Individu

Literasi ini diterapkan melalui keterampilan belajar membaca dan menulis yang fokusnya pada aspek-aspek strategis membaca dan menulis. Selain itu, menulis dipandang sebagai ekspresi kreatif seseorang, dan pembaca merupakan seseorang yang sedang mencari makna dari teks yang sedang dibacanya. Pembaca mengkombinasikan pengetahuan awalnya dengan informasi baru dalam teks bacaan. Ini artinya pembaca membandingkan latar belakang pengetahuan yang mereka miliki dengan informasi baru yang didapatkannya dari teks.

Ciri khas lainnya adalah pembelajaran dilaksanakan melalui menulis bebas, menyelesaikan masalah, dan belajar menemukan. Teks yang menjadi sasaran literasi ini adalah teks otentik yang dijumpai sehari-hari oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari, misalnya brosur, petunjuk penggunaan alat, surat undangan, majalah dan sebagainya. Juga termasuk teks-teks yang dipilih oleh siswa sendiri dan cerita pengalaman nyata siswa. Dalam proses pembelajaran, guru di ruang kelas dipandang sebagai fasilitator. Teori yang menjadi dasar literasi jenis ini adalah teori Rousseau, Dewey, dan Piaget tentang psikologi perkembangan kognitif; Savignon dan Canale mengenai Communicative Language Teaching; Frank Smith dan Ken Goodman mengenai psikolinguistik membaca; Donald Graves dan Cambourne mengenai bahasa holistik; dan Paulo Friere mengenai literasi sebagai kebebasan berpikir kritis.

4. Literasi sebagai Praktik Sosiokultural

Literasi ini diterapkan melalui kegiatan belajar berbasis teks, dengan secara eksplisit mengajarkan susunan teks dan ciri-ciri kosa kata dan tata bahasa tiap jenis teks, yang fokusnya pada hubungan antara teks dan tujuan sosiokultural dari teks tersebut. Ciri khas lainnya adalah pembelajaran dilaksanakan melalui bimbingan guru sebagai ahli yang membimbing siswa untuk menguasai literasi (membuat teks), baik proses maupun produk akhir teks. Ada empat tahapan pengajaran literasi jenis ini, yaitu (1) membangun pengetahuan siswa, (2) memberikan model-model yang sedang dipelajari yang ada di masyarakat, (3) membuat teks dalam kelompok, dan (4) Siswa membuat teks secara individu. Teks yang menjadi sasaran literasi ini adalah teks naratif, prosedur atau proses, deskriptif, eksplanatif, dan argumentatif. Dalam proses pembelajaran, guru di ruang kelas dipandang sebagai seorang ahli yang bisa membimbing siswa. Teori yang menjadi dasar acuan literasi jenis ini adalah teori Halliday mengenai pandangan sosiokultural dari bahasa yang menghubungkan penggunaan bahasa terhadap konteks sosial dan konteks budaya; Vygotsky yang tidak membedakan antara psikologi individu dari proses akulturisasi; dan Bernstein yang berpandangan bahwa individu tidak memiliki akses yang sama untuk membentuk bahasa yang kuat dalam masyarakat.


See more from Pendidikan