Translation 20article

Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang Menerjemahkan

Penerjemahan (translation) dan sumbangsih para penerjemah (translator) sudah tidak diragukan lagi dalam membantu orang mengenal dan memahami informasi yang ada dalam suatu bahasa asing. Kemajuan dan perkembangan negara kita tidak bisa lagi bergantung pada sumber daya alam yang kian hari kian menyusut, namun harus sudah beralih ke peningkatan kualitas sumber daya manusia. Salah satu caranya adalah, kita harus menguasai dan memiliki pengetahuan mengenai sains dan teknologi.

Seperti kita ketahui, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir masih banyak ditulis dan dilaporkan dalam bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Faktanya tidak semua warga negara kita menguasai bahasa asing. Di sinilah letak pentingnya penerjemahan teks ilmu pengetahuan dan teknologi ke dalam bahasa Indonesia secara profesional, terkoordinasi dan terus-menerus.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menerjemahkan

Dengan jumlah penduduk kurang lebih 260 juta, sepatutnya kita sudah dapat menerbitkan 144.000 judul buku per tahun. Kalkulasi kasar ini hasil dari komparasi dengan Malaysia yang sama-sama berbudaya Melayu. Malaysia yang berpenduduk kurang lebih 31 juta, mampu menerbitkan buku sekitar 18.000 judul baru per tahun. Sedangkan Indonesia baru mampu menerbitkan sekitar 30.000 judul per tahun (IKAPI, 2016).

Untuk dapat menghasilkan 144.000 judul buku per tahun (delapan kali lipat dari Malaysia), bisa dibantu dari hasil kegiatan penerjemahan buku sains, teknologi, sastra dan buku genre lain yang akan membantu mempercepat kemajuan bangsa ini. Untuk itu, kegiatan penerjemahan buku ini membutuhkan tenaga penerjemah profesional, yang mampu mengalihbahasakan semua jenis buku sehingga dapat dibaca dalam bahasa Indonesia. Saat ini, yang dapat kita lihat di toko buku adalah terjemahan buku-buku agama, novel-novel populer dan buku-buku hiburan, yang diterbitkan oleh pihak swasta. Belum banyak buku sains dan teknologi yang diterjemahkan. Padahal buku-buku tersebut dibutuhkan untuk mempercepat ketinggalan kita di bidang sains dan teknologi dari negara-negara lain.

Kurikulum Pendidikan Bahasa Asing

Seyogyanya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membuat kurikulum dan silabus yang fokus pada kebutuhan riil bangsa ini, sejak sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Pemerintah melalui Kemendikbud harus mengkaji lagi apakah pengajaran bahasa Inggris penekanannya pada keterampilan membaca (reading comprehension), menulis atau mengarang (writing atau composition), berbicara (speaking), atau menerjemahkan (translation). Bila ditetapkan fokusnya pada menulis dan berbicara, sudah cocokkah dengan kebutuhan riil bangsa ini? Bagaimana dengan keterampilan menerjemahkan? Apakah perlu di intensifkan? Pada satuan pendidikan apa? Sudah saatnyakah Kemendikbud membentuk lembaga khusus yang berfokus pada kegiatan penerjemahan?

Belajar dari Negara Jepang

Penerjemahan besar-besaran di Negari Matahari Terbit ini, terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Mutsuhito (1868-1912) yang dikenal dengan gelarnya Tenno Meiji. Masa itu dikenal dengan zaman pencerahan atau Era of Enlightment. Berbagai buku buku asing terutama buku-buku sains dan teknologi berbahasa Inggris diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Demikian pula dengan buku-buku yang membahas tentang peradaban dan kebudayaan barat sampai buku-buku ilmu pengetahuan praktis. Karya sastra para pengarang dunia sudah dapat dibaca dalam bahasa Jepang, sehingga bangsa Jepang dapat menikmati karya sastra tersebut seolah-olah karya itu adalah bagian dari kesusastraan mereka sendiri.

Menurut Kenji Mariguchi, salah seorang ahli bahasa Jepang, sesudah Restorasi Meiji, kebijaksanaan pengajaran bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, diubah secara mendasar. Pengajaran bahasa asing di Jepang lebih menekankan pada keterampilan membaca (reading comprehension) dan menerjemahkan (translation) daripada pengajaran keterampilan lainnya – menulis dan mengarang (writing dan composition) atau berbicara (speaking), sehingga dalam beberapa tahun kemudian, bangsa Jepang telah mempunyai keterampilan dasar penerjemahan. Dan kemudian terbukti, setelah masa pencerahan itu, bangsa yang ulet dan unik ini telah mampu menerjemahkan semua karangan yang dapat memperkaya wawasan dan ilmu pengetahuan mereka. Keadaan ini berlangsung sampai sekarang. Hasilnya, bisa kita lihat, sejak zaman pencerahan itu, Jepang telah dapat meraih apa-apa yang telah diraih oleh negara-negara Barat. Bahkan bangsa Jepang sudah mulai memimpin peradaban dunia dan perkembangan sains dan teknologi.

Proses Penerjemahan

Penerjemahan merupakan kegiatan yang menjadi sangat penting bagi manusia abad milenium ini. Kegiatan ini bukan saja menjadi milik para penerjemah, guru bahasa, ahli bahasa, ataupun peminat bahasa lainnya, melainkan juga telah memberi daya tarik yang kuat bagi para ahli sains dan teknologi, yang menyadari kekuatan bahasa sebagai media yang dapat memantau kepesatan perkembangan sains dan teknologi.

Setidaknya ada tiga faktor yang harus diperhatikan penerjemah saat menerjemahkan dari bahasa sumber (source language) ke bahasa sasaran (target language).

  • Sumber pesan, mencakup keadaan penulis, keadaan lingkungan tempat penulis tinggal, keadaan sosial budaya masyarakat tempat penulis tinggal, dan status sosial penulis yang memengaruhi kualitas karya tulisannya.
  • Media yang digunakan, media dalam hal ini meliputi sarana atau alat yang digunakan dalam menyampaikan pesan, berupa bahasa lisan atau bahasa tulis, yang berbentuk karangan narasi, argumentasi, deskripsi, dan mungkin juga puisi.
  • Penerima pesan, siapa penerima pesan itu, apakah dia orang yang dihormati, teman akrab, pelajar sekolah menengah, mahasiswa, orang yang lebih muda, atau bahkan anak-anak.

Idealnya, seorang penerjemah harus mampu memberikan kesan kepada pembacanya sedemikian rupa sehingga pembaca terjemahan itu tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang membaca teks terjemahan. Akan tetapi, karena adanya perbedaan kosakata, tata bahasa, dan budaya antara bahasa sumber dengan bahasa sasaran, tidaklah mudah seorang penerjemah seideal di atas. Apalagi jika penerjemah dituntut juga untuk selalu setia (faithful) kepada gaya penuturan penulis naskah bahasa sumbernya. Namun demikian, dengan bekal ilmu penerjemahan yang memadai disertai banyak berlatih dalam waktu yang panjang, setiap orang akan memiliki keterampilan menerjemahkan dengan baik.

Masa Depan Penerjemahan di Indonesia

Seyogianyalah untuk kepentingan percepatan kemajuan bangsa Indonesia, khususnya di bidang sains dan teknologi, pemerintah sebaiknya segera mengambil langkah-langkah strategis dan sistematis untuk memajukan penerjemahan. Misalnya, dengan pembuatan kurikulum bahasa asing yang sesuai dengan kebutuhan riil bangsa ini atau dengan pembentukan lembaga khusus yang bertugas untuk mengurus pelatihan penerjemah dan proses penerjemahan berbagai teks dari bahasa asing ke bahasa Indonesia.


See more from Tips penulisan