Singleplural

Bentuk tunggal dan jamak dalam bahasa indonesia

Seperti halnya bahasa Inggris, bahasa Indonesia juga mengenal konsep tunggal dan jamak. Konsep tunggal dan konsep jamak mengacu pada banyaknya benda atau individu yang diacu oleh nomina. Nomina disebut berbentuk tunggal jika benda atau individu yang diacu hanya satu. Jika benda/individu yang diacu lebih dari satu, nomina itu disebut berbentuk jamak.

Dalam bahasa Indonesia konsep tunggal ditandai oleh pemakaian kata, seperti satu, suatu, atau se-. Pemakaian kata tersebut terbatas pada nomina terbilang (countable noun). Jadi, bentuk satu mobil, suatu masalah, dan seekor kucing adalah bentuk yang berterima. Namun, bentuk satu air, suatu hormat, atau sebuah teh adalah bentuk yang tidak berterima karena nomina pada ketiga kata itu tergolong nomina takterbilang (uncountable noun).

Sementara itu, konsep jamak umumnya dinyatakan dengan perulangan (misalnya mobil à mobil-mobil, masalah à masalah-masalah, dan kucing à kucing-kucing) atau didahului langsung oleh bilangan untuk menyatakan jumlah (misalnya satu mobil, dua masalah, dan tiga kucing). Penggunaan perulangan untuk menyatakan konsep kejamakan dalam bahasa Indonesia juga terbatas pada nomina umum (nama jenis) terbilang, seperti rumah-rumah, orang-orang, dan kesulitan-kesulitan.

Kata air, beras, dan minyak, yang merupakan nomina takterbilang yang konkret, dimungkinkan memiliki bentuk perulangan air-air, beras-beras, dan minyak-minyak. Akan tetapi, bentuk perulangan tersebut mengandung pengertian bahwa benda yang dimaksud berada atau terdapat dalam beberapa wadah atau kumpulan.

Selain itu,  bentuk perulangan dengan sufiks -an dapat digunakan juga untuk menyatakan kumpulan atau keberagaman dari benda yang dinyatakan oleh nomina pangkal.

Perulangan
Perulangan + -an
batu-batu
batu-batuan
> bebatuan
biji-biji
biji-bijian
> bebijian
daun-daun
daun-daunan
> dedaunan
kacang-kacang
kacang-kacangan

pohon-pohon
pohon-pohonan
> pepohonan
rumput-rumput
rumput-rumputan
> rerumputan
sayur-sayur
sayur-sayuran

tanaman-tanaman
tanam-tanaman

tumbuhan-tumbuhan
tumbuh-tumbuhan
> tetumbuhan


Pada umumnya bentuk perulangan dengan sufiks -an di atas dapat bervariasi dengan perulangan suku pertama (dwipurwa), seperti bebatuan, bebijian, dedaunan, pepohonan, rerumputan, dan tetumbuhan.

Selain melalui perulangan, konsep kejamakan dapat dinyatakan secara leksikal dengan kata para, kaum, dan umat. Kata para dapat digunakan untuk menyatakan makna kolektif kelompok orang. Nomina yang dapat didahului oleh para terbatas pada nomina yang menyatakan kelompok orang yang mempunyai karakteristik tertentu, seperti pekerjaan (seperti para dosen, para hakim, atau para menteri) atau status (seperti para pelajar, para pemuda, atau para pejuang).

Kata kaum digunakan untuk menyatakan makna kolektif kelompok besar orang yang mempunyai paham, status, pekerjaan, atau nasib yang sama, seperti kaum bangsawan, kaum perempuan, kaum duafa, dan kaum tertindas.

Kata umat digunakan untuk menyatakan makna kolektif kelompok besar penganut agama tertentu, seperti umat Islam, umat Kristen, dan umat Hindu. Selain kata umat juga  digunakan untuk menyatakan makna generik manusia, seperti dalam kalimat Dana haji harus digunakan untuk kepentingan umat.

Dalam bahasa Indonesia, terdapat beberapa kata serapan yang dalam bahasa asalnya bermakna jamak, misalnya

  • muslimin  =  ‘para penganut agama Islam’,
  • hadirin  =  ‘semua orang yang hadir’,
  • alumni  =  ‘orang-orang yang telah mengikuti atau tamat dari suatu sekolah atau perguruan tinggi’, dan
  • data  =  ‘keterangan yang benar dan nyata’,

Kata muslimin adalah bentuk jamak dari muslim (Arab), hadirin dari hadir (Arab), alumni dari alumnus (Latin), dan data dari datum (Latin). Kata serapan tersebut tidak perlu lagi menggunakan perulangan ataupun kata para, kaum, dan umat jika akan dijamakkan, misalnya *muslimin-muslimin, *kaum muslimin atau *umat muslimin, *hadirin-hadirin atau *para hadirin, *alumni-alumni atau *para alumni, dan *data-data. Bentuk yang demikian itu adalah bentuk yang lewah atau mubazir. Namun, pada kenyataannya, masih banyak masyarakat yang melakukan hal itu, seperti yang terlihat dalam contoh berikut.

  • Tanpa ada yang memimpin, *para hadirin dengan spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
  • =Tanpa ada yang memimpin, hadirin dengan spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
  • Semoga Allah memberikan kemenangan kepada *kaum muslimin di sana.
  • =Semoga Allah memberikan kemenangan kepada muslimin di sana.
  • Kami ucapakan terima kasih kepada *para alumni yang turut memberikan ucapan melalui jejaring sosial.
  • =Kami ucapakan terima kasih kepada alumni yang turut memberikan ucapan melalui jejaring sosial.
  • Adapun *data-data yang digunakan adalah data primer dan sekunder.
  • =Adapun data yang digunakan adalah data primer dan sekunder.


See more from Kelas kata