Food 20idioms

Idiom tentang makanan dalam bahasa Indonesia

Idiom merupakan refleksi budaya tempat bahasa itu digunakan beserta nilai-nilainya. Oleh karena itu, mempelajari idiom berarti menambah wawasan budaya. Selain itu, idiom, bagi pemelajar bahasa, juga dapat membantu kefasihan berbicara sekaligus membantu memahami apa yang kita dengar atau baca.

Sering kali kita mencoba memahami sebuah idiom secara kata per kata atau secara harfiah. Hasilnya sudah pasti sebuah kesia-siaan karena untuk memahami idiom tidak dapat  dilakukan dengan cara seperti itu. Idiom berfungsi dalam kelompok kata, bukan individual, dan makna unsur-unsurnya sulit untuk ditelusuri. Misalnya, kambing hitam dalam kalimat ia selalu menjadi kambing hitam tidak bisa diartikan sebagai ‘kambing yang berwana hitam’. Dalam konteks itu, kambing hitam bermakna ‘orang yang dalam suatu peristiwa sebenarnya tidak bersalah, tetapi dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan’.

Indonesia yang kaya akan budaya kuliner ternyata mempunyai banyak idiom yang berkaitan dengan makanan. Kira-kira apa saja idiom itu? Berikut adalah lima belas idiom terpopuler tentang makanan.

Keladi

  • “tua-tua keladi”
  • Dipakai untuk menggambarkan seseorang yang sudah tua, tetapi bukan tua umurnya saja, melainkan juga banyak pengetahuan dan pengalaman. Idiom yang maknanya mirip dengan ini adalah “tua-tua kelapa” artinya ‘makin tua makin baik (lebih enak dan sebagainya)’.
  • Tua tua keladi, meski Gonzales tua masih dipercaya Aji.”

Asam

  • “asam garam”
  • Digunakan untuk menggambarkan pengalaman hidup, liku-liku hidup, atau suka duka dalam kehidupan.
  • Dengan kondisi fisik tanpa kaki dan satu tangan, ia sudah mencicipi asam garam.”

 Durian

  • “Mendapat durian runtuh”
  • Dipakai untuk menggambarkan seseorang yang mendapat keuntungan atau rezeki yang tidak disangka-sangka atau tidak dengan bersusah payah.
  • Kakek Suratman (94) tak menyangka akan mendapat durian runtuh di tengah nestapanya kehilangan uang Rp1,1 juta.”

Jagung

  • “seumur jagung”
  • Digunakan untuk menggambarkan waktu yang tidak lama atau sebentar saja, biasanya berkaitan dengan hubungan pericintaan, pernikahan, atau pertemanan.
  • Tiada kusangka, cintaku yang agung ternyata hanya seumur jagung.”

Cabai

  • “kecil-kecil cabai rawit”
  • Digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tampaknya kecil, tetapi cerdik, pemberani, atau membahayakan.
  • Pemain ini kecil-kecil cabai rawit, sudah 25 gol yang dicetaknya.”

Kacang

  • “kacang lupa akan kulitnya”
  • Digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tidak tahu diri, lupa akan asalnya.
  • Jika kau sukses nanti, janganlah seperti kacang lupa akan kulitnya.”

Daging

  • “duri dalam daging”
  • Dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang selalu menyakitkan hati atau mengganggu pikiran.
  • Ia tidak ingin kebijakan tersebut menjadi duri dalam daging bagi klub.

Nasi atau Bubur

  • “nasi sudah menjadi bubur”
  • Dipakai untuk mengambarkan suatu perbuatan yang sudah telanjur terjadi dan tidak dapat diperbaiki lagi.
  • Tidak ada yang perlu disesali, nasi sudah menjadi bubur.”

Jeruk

  • “jeruk makan jeruk”
  • Digunakkan  untuk menggambarkan seseorang yang mengambil keuntungan dari sesamanya atau komunitasnya, seperti dala m kalimat“Ia tidak ingin ada jeruk makan jeruk di instansi yang dipimpinnya.” Selain itu, idiom ini juga digunakan untuk menggambarkan orang yang cinta atau suka dengan sesama jenis, seperti dalam kalimat “Hampir semua tahu kalau dia jeruk makan jeruk.”

Sagu

  • “Sagu hati”
  • Digunakan untuk menggambarkan pemberian, tanda mata, hadiah, dsb. sebagai hiburan, tanda penghargaan, kenang-kenangan, dsb.
  • Ia menyerahkan sagu hati secara simbolis kepada pelatih senam

Ubi

  • “diam-diam ubi”
  • Digunakan untuk menggambarkan orang yang pendiam atau diam, tetapi berpikir atau banyak pengetahuannya.
  • Anak-anak itu ternyata diam-diam ubi.”

Garam

  • “menggarami air laut”
  • Digunakan untuk menggambarkan tindakan memberi bantuan kepada orang yang sama sekali tidak perlu dibantu. Selain itu, ada juga idiom dengan makna yang mirip, yaitu “membuang garam ke laut” yang bermakna ‘melakukan suatu pekerjaan yang tidak ada gunanya (seperti memberi sesuatu kepada orang kaya)’.
  • Subsidi BBM ibarat menggarami air laut.

Kuah

  • “kuah tumpah (tertuang) ke nasi”
  • Digunakan untuk menggambarkan seorang anak yang dikawinkan dengan kemenakan. Selain itu, idiom ini juga bisa untuk menggambarkan sesuatu yang sudah sewajarnya.

Gula Jawa

  • “hitam-hitam gula jawa”
  • Dipakai untuk menggambarkan seseorang yang berkulit hitam, tetapi manis.
  • Kau hitam-hitam gula jawa.”

Santan

  • “meremas santan di kuku”
  • Digunakan meminta sesuatu kepada orang yang tidak punya atau menghendaki sesuatu yang tidak mungkin diperoleh.
  • janganlah meremas santan di kuku         

 Nah, di antara lima belas idiom itu, idiom manakah yang paling sering kamu pakai?


See more from Peribahasa