Essay 20writingcropped

Menulis, Siapa Takut!

Ada peribahasa Yunani yang bunyinya Scripta Manent, Verba Volant, artinya ‘yang tertulis kekal, yang terucap menguap’. Ada juga ungkapan bahasa Inggris yang bunyinya ‘Publish or Perish’ yang dapat diartikan ‘menulis atau mati’. Peribahasa dan ungkapan tersebut menunjukkan betapa pentingnya suatu tulisan. Menurut John W. Newbern, manusia terbagi menjadi tiga golongan, yaitu: pertama, mereka yang membuat sesuatu terjadi; kedua, mereka yang melihat sesuatu terjadi; dan ketiga, mereka yang menonton dan terkesima dengan apa yang terjadi. Seorang penulis adalah orang yang membuat sesuatu terjadi.

Para ahli bahasa sering menyebutkan empat keterampilan bahasa yang harus dikuasai oleh pembelajar dan pengguna bahasa, yaitu: menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Dua keterampilan pertama: menyimak dan membaca disebut keterampilan menerima (receptive skills), sedangkan dua keterampilan yang terakhir: berbicara dan menulis disebut keterampilan menghasilkan (productive skills).

Berapa kali Anda menulis dalam sehari? Sudah dapat dipastikan jawabannya tidak lebih banyak jika dibanding Anda berbicara; tidak terkecuali bagi seorang penulis profesional sekalipun. Itulah sebabnya mengapa kemampuan berbicara seseorang hampir selalu lebih baik daripada kemampuan menulisnya. Menulis itu sulit bagi sebagian orang, tetapi mudah bagi sebagian yang lain.

Sebagian orang mungkin menganggap menulis itu mudah karena mereka menganggap bahasa tulisan identik dengan bahasa lisan. Tentu saja hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Jelas sangat berbeda jauh antara tulisan dengan ujaran. Tulisan melibatkan kerja keras dan proses yang panjang serta berliku-liku. Stuart McRobert membandingkan tulisan dan ujaran bak permainan catur dan permainan ular tangga. Tujuannya sama, tetapi tingkat kontrol, proses berpikir dan gayanya sangat berbeda.

Mengapa bahasa ujaran dan tulisan berbeda? Karena secara alamiah bahasa ujaran itu lebih longgar dalam mengikuti kaidah bahasa. Contohnya, ujaran “Kering banget nih kantongku, abis kondisi tanggung bulan gini, eh anakku minta dibeliin buku paket sekolah,” tentu tidak kita temui pada karya tulis formal. Ironisnya, walaupun tidak mengikuti pola kalimat yang benar, bahasa ujaran relatif lebih mudah dimengerti oleh lawan bicara, karena bahasa ujaran lebih fleksibel, bisa mengikutsertakan mimik muka dan gerak tangan untuk memperjelas makna. Sebaliknya, karena pembaca tidak ada dihadapannya, penulis harus berusaha keras menuangkan pikiran sejelas-jelasnya. Ada sekat ruang dan waktu yang tidak memungkinkan pembaca menanyakan langsung hal-hal yang tidak dimengertinya. Tulisan yang baik harus dapat menyampaikan pesan penulis kepada pembaca, sehingga pembaca tidak membutuhkan lagi penjelasan lisan dari penulisnya.

Menulis pada dasarnya bukan sekadar menuangkan bahasa ujaran ke dalam tulisan, tetapi merupakan mekanisme curahan gagasan, pesan, atau ilmu yang dituliskan dengan struktur yang benar, berkoherensi dengan baik antarparagraf, dan bebas dari kesalahan seperti ejaan dan tanda baca. Menulis adalah kemampuan, kemahiran dan kepiawaian seseorang dalam menyampaikan gagasannya ke dalam sebuah wacana agar diterima oleh pembaca yang heterogen baik secara intelektual maupun sosial.

Dalam menulis, bakat bukanlah syarat mutlak untuk menjadi penulis. Keterampilan menulis diawali oleh minat, kreativitas, serangkaian latihan dan penalaran yang tajam akan fenomena sosial yang ada; dan tak kalah pentingnya adalah kebiasaan membaca berbagai sumber bacaan, baik artikel jurnal nasional maupun internasional, serta berbagai buku teori yang ditulis oleh para ahli. Stephen D. Krashen (1984) dalam bukunya Writing: research, theory and applications, menyatakan bahwah ada korelasi yang sangat kuat antara membaca dan menulis. Menurutnya, penulis yang baik itu ternyata mempunyai banyak buku dan majalah di rumahnya, bahkan mempunyai perpustakaan pribadi. Di samping itu, seorang penulis yang baik juga seorang yang gemar membaca sejak kecil dan memiliki “ketergantungan” atau “kecanduan” terhadap buku. Jelaslah, banyak membaca akan memperluas wawasan dan memperkaya tulisan. You are what you read, demikian kata pepatah.

Kemampuan menulis bisa dikembangkan lewat proses latihan. Latihan ini bisa dikembangkan baik di lembaga pendidikan, maupun di tempat kerja dan di rumah. Untuk menjadi seorang penulis yang handal, mengetahui teori menulis bukan segala-galanya. Lebih penting adalah berlatih dan berlatih setiap saat, dan akhirnya teori ditemukan sendiri dari proses latihan. Cara sederhana menilai tulisan kita sudah baik adalah sebagai berikut: kita menulis sebuah paragraf pendek tentang apa saja, lalu minta tolong teman kita untuk membacanya. Jika ia bisa memahami dengan mudah tulisan kita, berarti kita sudah cukup siap untuk melangkah lebih jauh lagi untuk menjadi penulis handal.

Sayang sekali apabila kita punya banyak ide dan suka berimajinasi, tetapi terbuang dan terlupakan begitu saja karena tidak dituangkan dalam sebuah tulisan. Padahal, ide dan imajinasi kita, bisa jadi modal buat menjadi seorang penulis terkenal.

Banyak manfaat yang akan didapat melalui menulis, yaitu:

  • Intellectual value. Melalui menulis, kita bisa tahu sampai tingkat mana kecerdasan intelektual kita. Selain itu, dengan banyak menulis berarti banyak membaca. Pastinya, dari situ, dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis, memperluas pengetahuan dan memperkaya kosa kata.
  • Educational value. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari menulis. Seperti bagaimana cara berbahasa yang baik dan teknik penulisan yang baik yang akan terus diterapkan sepanjang hayat kita.
  • Psychological value. Kita jadi bisa lebih mengenal diri sendiri melalui tulisan-tulisan yang kita buat, misalkan dari perasaan-perasaan yang dituangkan dalam bentuk puisi atau cerita pendek.
  • Social value. Ketika tulisan kita yang dibaca oleh orang lain, berarti kita sudah mensosialisasikan buah pikiran kita untuk menjadi sumber inspirasi bagi orang lain, atau untuk memengaruhi orang lain melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Selain itu, penulis profesional bisa terkenal di masyarakat.
  • Financial value. Kalau tulisan yang kita buat dipublikasikan di koran atau majalah, atau bahkan jika sampai dijadikan buku, tentu bakal ada imbalan honor yang akan kita terima. Menulis juga bisa dijadikan sumber penghasilan tambahan.
  • Philosophical value. Nilai-nilai filosofis bisa kita dapatkan dari mana saja. Misalnya saat menulis, agar tulisan kita lebih berbobot, kita sudah mau peka dengan keadaan sekitar kita, lebih detail memperhatikan setiap hal, dan memikirkan sesuatu jadi lebih mendalam. Tanpa kita sadari ada nilai filosofis yang tersimpan di dalamnya.


See more from Tips penulisan