Plagiarism

Plagiarisme: Praktik Tidak Terpuji dalam Dunia Akademis

Praktik plagiarisme dapat terjadi pada siapa saja dari siswa sekolah menengah sampai dengan guru besar. Sejatinya, seorang guru besar dapat memberikan contoh praktik yang baik dalam dunia akademis dengan selalu menjunjung tinggi kode etik guru besar sebagai seorang akademisi yang mempunyai strata tertinggi dalam memberikan tauladan yang terbaik dalam bidang pengajaran, penelitian untuk meningkatkan peradaban manusia serta pengabdian terhadap masyarakat.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi 5 (KBBI5), plagiarisme adalah penjiplakan yang melanggar hak cipta. Jika kita melihat dari akar katanya, yaitu plagiat, KBBI5 mendefinisikannya sebagai pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dan sebagainya) sendiri, misalnya menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri.

Hakikatnya, plagiarism dan mencontek adalah tindakan jalan pintas yang menghalalkan segala cara untuk meraih sesuatu secara seketika. Termasuk dalam kategori ini adalah tindakan korupsi, di mana seseorang menjadi kaya raya secara cepat dan mudah, melalui jalan pintas dengan merampas hak orang lain. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa plagiarisme adalah saudara kandung dari korupsi.

Dalam bahasa Inggris, ada pepatah nothing new under the sun yang maknanya kurang lebih ‘tidak ada sesuatu yang baru di dunia ini’. Makna ini lebih jauh dapat dijelaskan bahwa bila kita ingin menulis sesuatu karya ilmiah, semua bahan-bahannya termasuk referensi, pendapat ahli, penelitian sebelumnya, dll., sudah tersedia. Tinggal tugas penulis untuk meracik bahan-bahan tersebut menjadi sesuatu yang baru yang tidak boleh sama, apalagi menjiplak 100% karya yang sudah ada.

Orisinalitas dalam Penulisan Karya Ilmiah

Rowena Murray (2002) dalam bukunya yang berjudul How to Write a Thesis menjelaskan bahwa “orisinalitas merupakan kriteria utama dan kata kunci dalam karya akademis, terutama pada tingkat doktoral.” Menurut Murray, sebuah karya ilmiah bisa dikatakan orisinal jika memenuhi beberapa kriteria berikut ini.

  • Kita mengatakan sesuatu yang belum pernah dikatakan oleh orang lain.
  • Kita melakukan karya empiris yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
  • Kita mensintesis hal yang belum pernah disintesis sebelumnya.
  • Kita menyusun interpretasi baru terhadap ide orang lain.
  • Kita melakukan suatu penelitian menggunakan desain penelitian yang baru.
  • Kita mengkritik suatu teori menggunakan pendekatan yang baru.
  • Kita melakukan suatu penelitian dengan menggabungkan dua desain penelitian.
  • Kita melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan teori yang baru.
  • Kita melakukan penelitian menggabungkan dua atau lebih teori yang baru.
  • Kita melakukan penelitian dengan cara menciptakan tujuan penelitian yang baru.

Menghindari Plagiarisme

Stephen Bailey (2006) dalam bukunya yang berjudul Academic Writing: A Handbook for International Students menjelaskan bahwa plagiarisme adalah menggunakan informasi atau ide dari penulis lain dan menggunakan dalam tulisan kita tanpa menyebutkan secara tepat sumber asli informasi tersebut. Ada dua cara untuk menghindari praktik plagiarisme yaitu (1) memparafrasa, atau (2) meringkas. Dalam artikel ini hanya akan dibahas cara yang pertama yaitu memparafrasa.

Parafrasa menurut KBBI5 bermakna pengungkapan kembali suatu tuturan dari sebuah tingkatan atau macam bahasa menjadi tuturan yang lain tanpa mengubah pengertian. Makna lainnya adalah penguraian kembali suatu teks (karangan) dalam bentuk (susunan kata-kata) yang lain, dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi. Sedangkan pengertian paraphrase menurut Oxford Dictionaries (en.oxforddictionaries.com) adalah express the meaning of (something written or spoken) using different words, especially to achieve greater clarity [menyatakan makna dari tulisan atau ujaran dengan menggunakan kata-kata yang berbeda, khususnya untuk membuatnya menjadi lebih jelas].

Sedangkan menurut surat keputusan rektor UI nomor 208/SK/R/UI/2009 tentang pedoman penyelesaian masalah plagiarisme, parafrasa harus memenuhi hal-hal berikut ini: 

  • Pernyataan atau ide yang akan diparafrasa adalah pernyataan yang diuraikan kembali dengan kata-kata sendiri. Untuk dapat melakukan parafrasa, penulis harus memahami intisari makna dari bagian yang akan diparafrasa itu; 
  • Walaupun menarasikan kembali teks sumber asli dengan kata-kata sendiri, penulis tetap menjaga agar makna tidak berubah atau berbeda dari makna yang disampaikan oleh penulis asli; 
  • Kalimat baru hasil parafrasa boleh panjang atau pendek selama maknanya tidak berubah; 
  • Hasil parafrasa dapat digabungkan dengan teks/tulisan penulis; 
  • Hasil parafrasa diberi jarak antarbaris yang sama dengan teks;
  • Hasil parafrasa tidak diapit oleh tanda kutip; 
  • Penulis yang memparafrasa tetap harus mencantumkan nama penulis asli dan sumber teks yang diparafrasa dengan sistem yang sesuai dengan gaya selingkung bidang penulis, misalnya menggunakan gaya selingkung APA, MLA, Harvard atau gaya selingkung yang lainnya; dan, 
  • Memunculkan kembali secara lengkap sumber kutipan pada Daftar Pustaka yang terletak di akhir tulisan.

Para peneliti, akademisi, dan tokoh masyarakat harus selalu menghindari plagiarism dengan selalu jujur dalam berkarya, menjunjung tinggi kebenaran, dan bekerja keras dalam membawa penelitian dan pendidikan di Indonesia menjadi lebih bermatabat.


See more from Tips penulisan